Momen Petugas PPSU Berburu Cuan dari Ikan Sapu-Sapu, Dibayar Rp 5.000 Per Kilogram
Aksi tangkap ikan sapu-sapu di Kelapa Gading beri insentif Rp5.000/kg, dipimpin Pramono untuk kendalikan hama sungai Jakarta.
Ringkasan Berita:
- Aksi bersih ikan sapu-sapu di Kelapa Gading Barat digelar dengan insentif Rp5.000 per kilogram untuk petugas PPSU.
- Program ini dipimpin Pramono Anung sebagai upaya mengendalikan hama invasif yang mendominasi sungai Jakarta dan merusak ekosistem perairan.
TRIBUNNEWS.COM - Uang Rp 5.000 per kilogram menjadi pemantik semangat dalam aksi bersih-bersih ikan sapu-sapu di Saluran RW 06, Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).
Insentif ini diberikan ke petugas PPSU yang berhasil mengumpulkan ikan sapu-sapu, seiring dimulainya operasi serentak di lima wilayah Jakarta yang dipimpin Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.
Pengumuman tersebut terpampang jelas pada spanduk yang dipasang di bagian depan aliran sungai sehingga mudah terlihat oleh warga yang melintas.
Di spanduk itu tertulis ajakan sekaligus informasi kegiatan, yakni 'RW 06 Mengadakan Kegiatan Gerakan Tangkap Ikan Sapu-sapu'.
Selain itu, dicantumkan pula keterangan mengenai insentif yang diberikan ke peserta, yaitu hasil tangkapan ikan sapu-sapu dihargai Rp 5.000 untuk setiap kilogram, sebagai bentuk dorongan agar masyarakat ikut berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan perairan.
"Pak RW yang membuat, supaya semangat," kata Pramono.
Ketua RW 06 Kelapa Gading, Ikhsan, menyampaikan, kebijakan tersebut merupakan respons cepat atas arahan gubernur terkait penanganan hama di perairan Jakarta.
"Saya hanya spontan merespons apa yang Pak Gubernur instruksikan ke wilayah DKI Jakarta untuk mengendalikan hama polusi ikan sapu-sapu ini," ucap Ikhsan.
Ia berharap, langkah pemberian insentif ini dapat mendorong partisipasi warga sekaligus mempercepat upaya pemulihan ekosistem perairan yang terdampak oleh dominasi ikan invasif tersebut.
"Itu imbalan atau iming-iming untuk memotivasi di wilayah sini, kami hargai per kilo Rp 5.000," kata Ikhsan.
Ikhsan menegaskan kebijakan ini tidak berlaku luas, melainkan hanya diterapkan di wilayah yang ia pimpin.
Pantauan di lokasi, kehadiran Pramono disambut jajaran pejabat terkait, di antaranya Kepala Dinas KPKP Hasudungan A Sidabalok serta Wali Kota Jakarta Utara Hendra Hidayat. Hadir pula Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Laut (Danpuspomal) Harry Indarto dan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Haeru Rahayu.
Operasi pembersihan difokuskan di saluran air permukiman warga yang tampak keruh dan dipenuhi sedimentasi. Sejumlah petugas PPSU dikerahkan dengan perlengkapan lengkap, mulai dari sepatu bot air, jala ikan, hingga perahu kecil untuk menjangkau area yang lebih dalam.
Petugas turun ke saluran dengan kedalaman bervariasi, mulai setinggi lutut hingga mencapai dada orang dewasa. Dalam waktu singkat, hasil tangkapan mulai terlihat.
Hanya dalam hitungan dua menit setelah menyebur, beberapa petugas sudah berhasil menjaring tiga hingga empat ekor ikan sapu-sapu. Ikan-ikan yang tertangkap langsung dimasukkan ke dalam karung untuk dikumpulkan.
Tak hanya memantau, Pramono juga ikut turun ke area saluran dengan bantuan jembatan apung dan menyaksikan langsung proses penangkapan hingga pengumpulan ikan.
Baca juga: Harganya hanya Rp1.500 per Kilo, Wali Kota Jakpus Ingatkan Bahaya Ikan Sapu-Sapu untuk Siomay
Aksi tersebut menarik perhatian warga sekitar yang turut menyaksikan jalannya operasi. Beberapa di antaranya tampak antusias melihat proses pembersihan yang jarang dilakukan secara masif di lingkungan permukiman.
Pramono menegaskan, penangkapan ikan sapu-sapu dilakukan secara serentak di lima wilayah Jakarta, yakni Jakarta Utara, Selatan, Timur, Barat, dan Pusat.
"Ikan ini sekarang mendominasi perairan Jakarta, dari hasil telaah KKP, diperkirakan lebih dari 60 persen populasi ikan di Jakarta adalah ikan sapu-sapu," ujar Pramono.
Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu merupakan spesies invasif yang mengancam keberlangsungan ikan lokal. Selain memangsa telur ikan lain, keberadaannya juga merusak ekosistem perairan.
"Ikan ini sangat invasif, membuat ikan-ikan lokal tidak bisa bertahan karena telurnya dimakan, bahkan dari laporan KKP, kadar residunya rata-rata sudah di atas 0,3, yang berbahaya jika dikonsumsi," katanya.
Ikan sapu-sapu juga merusak struktur sungai karena kebiasaannya menggerogoti dinding saat membuat sarang. Pramono menyebutkan, target awal penangkapan di lokasi tersebut sekitar 150 kilogram, namun hasilnya diperkirakan melampaui angka tersebut.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Haeru Rahayu, mengapresiasi langkah Pemprov DKI dalam mengendalikan populasi ikan sapu-sapu. Menurutnya, hingga saat ini metode paling efektif masih dilakukan secara konvensional melalui penangkapan langsung.
"Secara biologis belum ada predator alami yang efektif, sementara pendekatan kimia berisiko terhadap lingkungan, jadi metode seperti ini yang paling memungkinkan saat ini," ujarnya.
Haeru menyebut KKP tengah merevisi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 agar lebih aplikatif dalam mendukung pengendalian populasi ikan sapu-sapu.
Sementara itu, Harry Indarto menegaskan kesiapan TNI AL untuk mendukung upaya tersebut.
"Kami bersama stakeholder di wilayah Kelapa Gading merasa ikut bertanggung jawab dalam mendukung program Pemprov DKI, lingkungan kami juga dikelilingi sungai kecil yang banyak ditemukan ikan seperti ini," ujarnya.
Ia memastikan TNI Angkatan Laut siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dalam menjaga ekosistem perairan, khususnya di wilayah Jakarta Utara.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap dapat menekan dominasi ikan sapu-sapu sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem sungai di ibu kota.
Artikel ini telah tayang di WartaKotalive.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.