Persoalan Sampah di Jakarta Tak Kunjung Tuntas, Sekolah Kini Ikut Dilibatkan
Pemprov DKI perluas Gerakan Pilah Sampah ke sekolah dan keluarga, dorong perubahan perilaku serta pengelolaan e-waste.
“Gerakan Pemilahan Sampah dari Sumber ini baru berjalan sekitar dua minggu, sehingga saat ini kami masih dalam tahap konsolidasi pelaksanaan sekaligus pengumpulan data dari berbagai wilayah,” ujar Dudi saat dikonfirmasi, Senin (1/6/2026).
Ia menyebut fokus utama saat ini adalah membangun kebiasaan pemilahan sampah secara konsisten mulai dari rumah tangga hingga sistem pengangkutan.
“Pada fase awal ini, fokus utama kami adalah membangun kebiasaan memilah sampah di masyarakat serta memastikan sistem pemilahannya berjalan secara konsisten, mulai dari rumah tangga, kawasan, hingga petugas pengangkutan,” katanya.
DLH DKI juga melibatkan berbagai unsur masyarakat, termasuk kader PKK, Dasawisma, dan Jumantik untuk memberikan edukasi kepada warga.
“Meskipun data pengurangan sampah masih dalam proses monitoring dan evaluasi, kami melihat adanya respons dan partisipasi masyarakat yang cukup positif di sejumlah wilayah,” ujar Dudi.
“Respons masyarakat sejauh ini cukup positif. Pasca Deklarasi Gerakan Pemilahan Sampah dari Sumber pada 10 Mei 2026, masyarakat mulai membiasakan pemilahan sampah di tingkat rumah tangga hingga lingkungan RW,” katanya.
Selain pemilahan, sejumlah metode pengolahan sampah organik seperti komposting, biopori, biokonversi maggot BSF, ecoenzym, dan Teba modern juga mulai diterapkan di sejumlah wilayah.
Sekolah Didorong Kelola Sampah Elektronik
Di sektor pendidikan, Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan mendorong pengelolaan sampah elektronik atau electronic waste (e-waste) di lingkungan sekolah.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Jakarta Selatan Sarwoko mengatakan langkah tersebut sejalan dengan kebijakan pengelolaan sampah yang tengah dijalankan Pemprov DKI Jakarta.
"Bagi kami di dunia pendidikan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah bentuk implementasi nyata dalam menanamkan kesadaran, kecintaan terhadap lingkungan, dan rasa tanggung jawab kepada para peserta didik," kata Sarwoko.
Menurutnya, pendidikan lingkungan perlu diikuti dengan praktik langsung agar siswa memahami dampak limbah elektronik terhadap lingkungan.
"Kami tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mengajak siswa mempraktikkan langsung bagaimana menjaga bumi dari dampak kemajuan teknologi," ujarnya.
Ia juga menilai program pengelolaan sampah elektronik relevan dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026.
"Program ini sangat tepat waktunya karena sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait pengelolaan sampah," katanya.
Sarwoko menyebut sejumlah sekolah saat ini telah menjalankan proyek percontohan pemilahan sampah, termasuk pengolahan sampah menjadi kompos dan paving block.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-sampah12.jpg)