Pemprov DKI Kaji Kenaikan Tarif Transjabodetabek, Pengamat: Harus Kompetitif dengan KRL
Pemprov DKI siapkan penyesuaian tarif Transjabodetabek, tak lagi Rp3.500 flat, dengan kajian kemampuan bayar masyarakat.
Ringkasan Berita:
- Gubernur DKI Pramono Anung memastikan tarif Transjabodetabek akan disesuaikan dari Rp3.500 flat.
- Pengamat transportasi Deddy Herlambang menilai tarif murah tak relevan untuk rute jauh seperti Blok M–Soetta, wajar jika naik Rp10.000–Rp15.000.
- Namun ia mengingatkan perlunya kajian agar tidak membebani masyarakat, terutama pekerja bandara
TRIBUNNEWS.COM - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan akan ada penyesuaian tarif Transjabodetabek dari semula Rp3.500 flat.
Besaran tarif hasil penyesuaian akan diputuskan dalam waktu dekat.
Baca juga: Transjabodetabek Terus Diperluas, Mobilitas Warga Kian Mudah
Analisa Pengamat soal Wacana Penyesuaian Tarif Transjabodetabek
Menanggapi hal ini, pengamat transportasi Deddy Herlambang mengakui tarif flat Rp 3.500 tidak lagi relevan untuk rute jarak jauh seperti Blok M - Bogor dan Blok M - Bandara Soekarno Hatta. Menurutnya, tarif Transjabodetabek rute tersebut setidaknya kompetitif dengan tarif Kereta Rel Listrik (KRL).
"Kalau Rp 3.500 untuk Transjabodetabek itu memang terlalu murah. KRL saja kalau Bogor - Manggarai Rp6.000, Depok - Manggarai Rp5.000. Makanya kalau Rp3.500 sangat-sangat murah. Paling tidak harganya kompetitif dengan KRL," ucap Deddy kepada wartawan, Kamis (11/6/2026).
Meski penyesuaian dinilai wajar, Deddy menekankan Pemprov DKI perlu hati - hati dalam menetapkan besaran kenaikan tarif.
Ia mengingatkan perlu adanya kajian mendalam terkait kemauan dan kemampuan membayar masyarakat. Penyesuaian tarif diharapkan dapat mengedepankan dialog dengan seluruh pemangku kepentingan, utamanya para pengguna layanan.
"Ini sedang krisis ekonomi. BBM naik walaupun Pertalite aman, tapi yang lain naik. Minyak goreng naik, beras naik, jangan sampai kenaikan tarif ini tambah membebani masyarakat. Menurut saya penyesuaian tarif tidak masalah, hanya perlu hati-hati soal penetapan tarif," tutur dia.
Deddy secara khusus menyoroti rute Transjabodetabek Blok M–Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) yang saat ini hanya dikenakan tarif Rp3.500.
Rute ini telah melayani total 77.391 penumpang sejak beroperasi pada 12 Maret 2026, dengan okupansi harian mencapai rata-rata 1.269 penumpang.
Dengan jarak tempuh sepanjang 65,13 kilometer, tarif Rp 3.500 untuk rute ini menurut Deddy terlampau murah.
Atas dasar itu, ia menilai penyesuaian tarif di angka Rp10.000-15.000 masih wajar dan terjangkau, utamanya bagi mereka yang berpergian ke bandara untuk keperluan penerbangan.
"Kalau pengguna pesawat, tarif Rp10.000 sampai Rp15.000 masih sangat murah dan terjangkau. Tiket pesawat saja bisa jutaan rupiah, masa feeder ke bandara hanya Rp3.500?" kata Deddy.
Di sisi lain Deddy mendorong penyesuaian tarif untuk rute Blok M - Bandara Soetta tidak diberlakukan secara seragam kepada seluruh pengguna.
Pemprov DKI harus mempertimbangkan skema tarif khusus bagi para pekerja bandara yang setiap hari bergantung pada layanan tersebut untuk berangkat dan pulang kerja.
Ia mengingatkan bahwa segmen pengguna layanan Transjabodetabek menuju Bandara Soetta tidak hanya penumpang pesawat, tetapi juga puluhan ribu pekerja yang beraktivitas di kawasan bandara. Mulai dari pegawai restoran, toko, hingga berbagai layanan pendukung lainnya.