Geopolitik Indonesia
Anggota MPR Ingatkan Dampak Geopolitik BOP terhadap Ekonomi dan Ketahanan Pangan RI
Johan Rosihan ingatkan pemerintah agar cermat sikapi isu BOP demi jaga kedaulatan dan stabilitas ekonomi.
Indonesia sendiri memiliki modal historis melalui prinsip politik luar negeri bebas aktif yang telah dirintis sejak era Soekarno.
Namun, modal tersebut hanya akan efektif jika diikuti dengan konsistensi dan ketegasan dalam menentukan prioritas. Kepentingan nasional harus menjadi kompas utama, bukan sekadar pertimbangan jangka pendek yang dipengaruhi oleh tekanan eksternal.
"Setiap keputusan terkait keikutsertaan atau penarikan diri dari suatu inisiatif global harus didasarkan pada satu pertanyaan mendasar, apakah langkah tersebut memperkuat atau justru melemahkan posisi Indonesia dalam jangka panjang?" katanya.
Risiko yang Tidak Terlihat
Menurut Johan, dinamika geopolitik global tidak lagi dapat dipandang semata sebagai isu politik luar negeri. Perkembangan hubungan antarnegara terbukti memiliki dampak langsung terhadap kondisi fiskal, termasuk terhadap postur anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Johan menjelaskan, ketika hubungan dengan mitra strategis mengalami gangguan, dampaknya segera terasa pada sektor perdagangan. Penurunan ekspor komoditas unggulan dapat terjadi akibat hambatan tarif maupun non-tarif.
"Bagi Indonesia, komoditas seperti produk pertanian, perikanan, dan turunannya sangat bergantung pada akses pasar global, sehingga rentan terhadap perubahan kebijakan perdagangan internasional," ucap Johan.
Selain itu, ketidakstabilan geopolitik juga berpotensi mengganggu rantai pasok global. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya produksi di dalam negeri, terutama karena ketergantungan pada input impor seperti pupuk, pakan, dan teknologi.
Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya menekan margin usaha dan berisiko menurunkan produktivitas sektor-sektor strategis.
Dari sisi moneter, Johan menyoroti tekanan terhadap nilai tukar rupiah sebagai salah satu risiko utama. Ketidakpastian global cenderung memicu arus modal keluar atau capital outflow yang berujung pada pelemahan nilai tukar.
Dalam situasi ini, pemerintah kerap perlu mengalokasikan anggaran tambahan guna menjaga stabilitas ekonomi.
Implikasi lainnya adalah meningkatnya beban subsidi, khususnya pada sektor pangan dan energi. Kenaikan harga global memaksa pemerintah untuk hadir melindungi daya beli masyarakat, tapi konsekuensinya adalah semakin terbatasnya ruang fiskal untuk pembiayaan pembangunan.
Menurutnya, setiap keputusan diplomatik memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan. Pemerintah pun dituntut untuk mempertimbangkan secara cermat dampak geopolitik terhadap keberlanjutan fiskal, demi menjaga kemampuan negara dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sektor yang Paling Rentan
Johan menilai, ketahanan pangan menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap dinamika geopolitik global.
Dalam kondisi normal, pasar internasional berperan sebagai penyeimbang ketika produksi domestik mengalami tekanan. Namun, di tengah ketidakstabilan geopolitik, mekanisme tersebut justru berpotensi menjadi sumber kerentanan baru.
Johan menjelaskan, gangguan dalam hubungan internasional dapat berdampak langsung pada akses terhadap impor pangan strategis. Pembatasan ekspor oleh negara pemasok ataupun hambatan distribusi global berisiko menimbulkan kekurangan pasokan di dalam negeri.

:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Johan-Rosihan.jpg)