Minggu, 12 April 2026

Boni Hargens: Contohlah Etika Politik Politisi Jerman

Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargens meminta para politisi maupun pejabat publik yang terindikasi korupsi untuk mundur

Penulis: Johnson Simanjuntak

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Boni Hargens meminta para politisi maupun pejabat publik yang terindikasi korupsi untuk mundur dari jabatannya.

Perilaku yang berlindung dibalik proses hukum untuk berkelit atas permasalahan yang mereka buat sendiri tidak pantas lagi dilakukan karena diluar hukum ada etika yang juga harus dijaga.

“Jangan terus membodohi rakyat dengan mengatasnamakan menunggu proses hukum. Dalam kehidupan selain hukum, juga ada etika yang harus dijaga dan mereka jelas-jelas sudah melanggar etika, sehingga mundur atau dimundurkan jika tidak mau harus dilakukan,” ujar Boni Hargens melalui pesan elektronik dari Berlin, Jerman tempat dia sedang mengambil program doctor di Humbold Universtaet, Selasa (21/2/2012).

Dirinya pun menyebut nama-nama menteri seperti Muhaimin Iskandar, Andi Mallarangeng dan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum sebagai contoh politisi yang tidak beretika dan selalu berlindung dibalik proses hukum yang sedang dijalankan.

“Indonesia rusak karena perilaku mereka yang selalu berlindung dibalik proses hukum tanpa mempedulikan etika. Memangnya ada negara di dunia yang hanya peduli pada hukum dan tidak mempedulikan etika?,” tanyanya.

Dirinya pun mencontohkan bagaimana politisi senior Jerman yang mundur karena patuh pada etika.

“Mantan Kanselir Jerman Barat yang berkuasa puluhan tahun, Helmut Kohl mundur dari jabatannya karena menerima uang sebagai ketua umum partai yang berkuasa CDU/CSU sebesar 8000 DM saat itu atau hanya sebesar Rp 160 juta. Dana itu bukan untuk kepentingan pribadinya tapi masuk ke kas partainya. Dia pun mundur dengan legowo,” jelasnya.

Mengenai banyaknya kasus politisi yang bukan pejabat publik menggunakan fasilitas negara dan seringkali berlebihan, Boni pun meminta mereka untuk mencontoh mantan Kanselir Jerman, Gerhard Schoreder.

Schroeder pernah satu kali menggunakan waktu liburnya bersama keluarganya. Tapi anehnya Schoreder naik pesawat vip militer dan istrinya naik pesawat komersial Lufthansa. Usut punya usut, istri Schoreder tidak berangkat naik pesawat militer, karena dia harus membayar ongkos yang lebih mahal.

"Istri kanselir memang mendapatkan fasilitas tapi jika untuk kepentingan kerja bukan liburan. Kalau liburan dia harus bayar karena yang mendapatkan fasilitas penuh itu hanya kanselirnya saja,” kata Boni Hargens.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved