Kamis, 9 April 2026

Yuk, Cegah Dini Penyebaran HIV/AIDS

Dalam salah satu episode tayangan talkshow Kick Andy, Timotius Hadi Wijoyo, seorang tamu yang diundang tampil di acara

Penulis: Choirul Arifin
Editor: Anwar Sadat Guna

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Choirul Arifin

TRIBUNNEWS.COM - Dalam salah satu episode tayangan talkshow Kick Andy, Timotius Hadi Wijoyo, seorang tamu yang diundang tampil di acara ini mengaku, dirinya dinyatakan positif penderita HIV/AIDS pada 2003 setelah ia mengalami ketergantungan narkoba akut dan menjalani pemeriksaan intensif oleh dokter.

Hadi, sapaan akrabnya, semasa kecilnya tumbuh layaknya anak sebayanya. Namun, sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD), dia sudah doyan merokok, belajar minum minuman keras, dan mencicipi pil tidur.

Teman mainnya sehari-hari kemudian menawarinya buat mencoba ganja. Ingin menjajal yang lebih menggigit lagi, dia kemudian mulai mengonsumsi narkoba, baik lewat asupan mulut, maupun kulit melalui jarum suntik.

Dia pun jadi sakaw dan bisa mengonsumsi 25 pil tidur sekaligus dan memaksa orangtuanya membawanya ke rumah sakit.
Ketergantungannya pada narkoba dan jarum suntik membuat Hadi tertular virus mematikan HIV/AIDS. Hadi kini menjadi relawan yang membantu penyembuhan para pecandu narkoba.

Hadi adalah contoh bagaimana HIV/AIDS begitu mudah menyebar dan menular. Data di Departemen Kesehatan RI menunjukkan, angka penderitanya dari tahun ke tahun makin tinggi, dengan sebaran yang makin meluas dan mengkhawatirkan, bahkan hampir merata di Indonesia.

Menteri Kesehatan RI Dr Nafsiah Mboi Sp.A MPH dalam paparan Pekan Kondom Nasional, 5 Desember di Jakarta, menyebutkan, jumlah kasus HIV nasional pada 2006 mencapai 7.195 kasus, dan kasus AIDS mencapai 4.434 kasus.

Di tahun 2010, melonjak menjadi 21.591 kasus HIV dan 6.476 kasus AIDS. Tahun 2012, temuan kasus HIV menurut catatan Menkes, mencapai 15.372 kasus dan temuan kasus AIDS mencapai 3.541 kasus.

Bertukar penggunaan jarum suntik, dan hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman merupakan pintu yang membuat virus HIV/AIDS mudah menyebar.

Yang perlu diingat, penyakit ini bisa mengenai siapa saja, tanpa memandang status sosial dan latar belakang. Ibu yang positif terkena penyakit ini, berpotensi menurunkan penyakitnya kepada anak yang dilahirkan.

Karena itu, berbagai upaya pencegahan dan penanganan terhadap penyebaran HIV/AIDS mesti terus digiatkan. Upaya ini bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menuntut peran masyarakat luas juga lembaga swadaya masyarakat hingga swasta.

Ketika ada lembaga dan perusahaan yang peduli mengkampanyekan pencegahan penyebaran HIV/AIDS masyarakat pun sudah seharusnya mendukung.

Awal Desember 2012 lalu misalnya, digelar Pekan Kondom Nasional 2012. Ini merupakan kampanye sadar menggunakan kondom buat kelompok masyarakat berisiko terkena HIV/AIDS yang digalang oleh DKT Indonesia bersama Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN).
Tahun ini, kampanye ini memasuki yang keenam kalinya. Kampanye ini mendorong kepedulian dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan HIV/AIDS dan diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) yang jatuh pada 1 Desember.

Tahun ini, kampanye ini berlangsung selama seminggu penuh dengan berbagai kegiatan yang mendidik seluruh lapisan masyarakat tentang pencegahan dan hubungan seks yang aman.

Salah satu tugas penting KPAN dan DKT dalam kampanye ini adalah program pencegahan infeksi HIV baru, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti para pekerja seks berikut pelanggannya, para kaum gay dan waria, juga kepada pengguna narkoba jarum suntik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved