Ibarat 'Bluetooth', Masuknya PAN dalam Kabinet Jokowi Tak Berdampak Positif
Partai Amanat Nasional (PAN) terus dikabarkan masuk dalam kabinet Joko Widodo
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ferdinand Waskita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Partai Amanat Nasional (PAN) terus dikabarkan masuk dalam kabinet Joko Widodo. Pengamat Politik Dian Permata menilai, wacana masuknya PAN dalam kabinet Kerja jika terjadi reshuffle tidak akan berdampak positif terlalu banyak kepada kinerja pemerintahan.
Lantaran PAN harus membangun chemistry terlebih dahulu dengan Joko Widodo dan Jusuf Kalla serta dengan parpol Koalisi Indonesia Hebat (KIH). "Ibarat bluetooh mereka membutuhkan waktu pairing (saling mencocokkan)," kata Dian ketika dikonfirmasi Tribunnews.com, Minggu (5/7/2015).
Peneliti Senior Founding Fathers House (FFH) itu menilai didorongnya PAN masuk dalam kabinet kerja, hanya sekadar memenuhi ekpektasi publik untuk meredam politik gaduh di parlemen yang sudah akut. Dengan masuknya PAN di Kabinet Kerja maka secara otomatis merubah komposisi jumlah kursi dua koalisi yakni KIH dan KMP di DPR. Di sisi lain, masuknya PAN ke Kabinet Kerja tidak gratisan alias tanpa ada syarat ketentuan berlaku.
"Dalam sebuah negosiasi, apalagi di politik, itu sebuah kelaziman. Tentunya hanya mereka tahu itu," tuturnya.
Di samping itu, kata Dian, masuknya PAN, secara tidak langsung akan menguji soliditas di KIH maupun KMP. Untuk parpol di KIH, apakah ada anggota koalisi yang iri dan cemburu terhadap PAN karena tidak bekeringat pada Pilpres 2014 dengan mengusung pasangan JKW-JK justeru mendapatkan alokasi kursi kekuasaan. Sedangkan di KMP, akan ada pergulatan tentanga paradigma bahwa tiada teman sejati dalam perjuangan.
"Karena thesis selama ini terbangun adalah teman politik sejati adalah kepentingan. Bukan ide atau ideologi perjuangan," ujarnya.