Ledakan Bom di Sarinah

Teroris Remaja Anak Buah Bahrun Naim Dituntut 7 Tahun

Andika Bagus Setiawan menjadi teroris remaja yang diadili di pengadilan tanah air.

Teroris Remaja Anak Buah Bahrun Naim Dituntut 7 Tahun
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Polisi bersenjata lengkap berjaga disekitar kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016). Sejumlah pelaku teror melakukan peledakan dan penembakan kepada polisi dan warga didaerah Sarinah, Jakarta Pusat, mengakibatkan korban tewas serta terluka. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Andika Bagus Setiawan menjadi teroris remaja yang diadili di pengadilan tanah air. Remaja berusia 17 tahun dan masih bersekolah kelas 2 Madrasah Aliyah (setara SMA) di Solo ini, kemarin (28/1) dituntut hukuman tujuh tahun penjara.

Tuntutan seberat itu lantaran Andika diduga telah menjadi peracik bom yang didanai Bahrun Naim.

Lantaran masih anak-anak, sidang di ruang pengadilan anak Pengadilan Negeri Jakarta Timur berlangsung tertutup. Peradilan terhadap Andika pun berjalan cepat. Ia baru ditangkap 29 Desember 2015 lalu.

Usai persidangan, kuasa hukum Andika yakni Nurlan menyatakan tuntutan jaksa sangat berlebihan. Tuntutan tujuh tahun itu sama saja menggangap Andika telah dewasa.

"Tuntutan tersebut sangat lama, dia (Jaksa) tidak memperhitungkan psikologis anak," papar Nurlan.

Andika dijerat Pasal 15 juncto Pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Menurut Nurlan, pengenaan pasal tersebut juga tidak berdasar fakta yang ada.
"Aksinya mana, terornya mana, dia hanya mengulek-ulek arang," tegas Nurlan.

Menurutnya, tuntutan jaksa terlalu didramatisir. Apalagi jaksa mengaitkan Andika dengan Bahrun Naim, sosok yang diduga menjadi otak Bom Thamrin, 14 Januari 2016 lalu. "Andika dikait-kaitkan dengan Bahrun Naim, katanya telah berkomunikasi, adahal dalam pemaparan dipersidangan tidak ada itu komunikasi (dengan Bahrun Naim)," tegasnya.

Bagi Nurlan, Andika, hanya korban cuci otak. Ia masih polos dan belum dewasa, sehingga seharusnya dibimbing melalui program deradikalisasi. Ia mencontohkan pelaku teror di Temanggung, yang juka dilakukan oleh anak di bawah umur. Pelaku tersebut hanya divonis tiga tahun penjara kemudian masuk program deradikalisasi.
"Yang di Temanggung sekarang kembali pada jalan yang benar, kembali baik dan normal, seharusnya seperti itu," paparnya.

Dalam dakwaan Jaksa keterlibatan Andika berawal pada tahun 2014. Andika yang memiliki nama lain Si Kecil alias Adit alias Tolihan bin Supono, mengikuti pengajian yang dilaksanakan di Masjid Al-Basyir di desa Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon. Ia bergabung dengan tim hisbah yang dipimpin Ahmad Junaidi.

Kegiatan tim hisbah yakni menjalankan Amar Makruf Nahi Mungkar. Dilaksanakan setiap Sabtu sekitar pukul 21.00 WIB dengan sasaran adalah peminum minuman berlakohol dan penjual minuman beralkohol di kawasan Solo, dan Sukoharjo.

Halaman
12
Penulis: Yulis Sulistyawan
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved