FSP BUMN Bersatu Curiga Tender Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung
proyek Kereta Cepat yang ditawarkan Jepang melalui Japan International Cooperation Agency jauh lebih mrnguntungkan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono menilai, proyek Kereta Cepat yang ditawarkan Jepang melalui Japan International Cooperation Agency jauh lebih menguntungkan, serta memiliki produk yang jauh lebih baik dari China Railway Corporation
Namun sayangnya, JICA dikalahkan yang menurut Arief,aakibat ada konspirasi antara pemerintah dengan Xu Shaosi, Menteri Pembangunan Nasional dan Komisi Reformasi China, untuk mempengaruhi tender yang sedang berlangsung .
Hal ini, ungkap Arief, terlihat dari perbandingan yang ditawarkan oleh JICA yaitu Biaya 4,4 miliar USD.
Masa pinjaman 40 tahun dengan grace periode (masa mulai membayar bunga) 10 tahun kemudian setelah pinjaman cair. Dengan bunga 0,1 persen .
Sedangkan China Railway Corporation mengunakan biaya 5,5 miliar USD untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung.
Menurutnya, jauh lebih mahal tiga kali dari biaya pembangunan proyek Kereta api cepat dengan kecepatan 250km / jam yang sama di China dengan panjang lintasan 305 KM
"Lalu dari masa pinjaman yang diberikan 50 tahun,belum jelas berapa tahun grace periode yang diberikan,dibutuhkan jaminan dari pemerintah berupa Sovereign Guarantee dalam bentuk Subsidiary Loan Agreement agar BUMN yang ikut dalam projek Kereta Cepat mendapatkan pinjaman sebesar 5,5 Milyar USD," papar Arief, Selasa (2/2/2016).
"Sedangkan bunga bank yang dikenakan adalah 2 persen pertahun tidak fix rate," tambahnya.
Menurutnya, pernyataan Rini Soemarno yang mengatakan tidak mengunakan jaminan dari pemerintah terkesan membodohi publik.
Sebab,setelah ground breaking proyek Kereta Cepat, terbit Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 3 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Disebutkan, negara dapat menjamin proyek strategis nasional.
"Dari sisi pembiayaan saja, proyek KA Cepat ini akan merugikan BUMN yang bergabung dalam PT Pilar Sinergi BUMN ( WIKA,PTPN 8 ,PT KAI ,PT JSM )," lanjut Arief/
Dalam kepemilikan saham perusahaan yang membangun dan nantinya mengoperasikan KA Cepat Jakarta Bandung yaitu PT KCIC, 60 persen saham dimiliki PT Pilar Sinergi BUMN dan 40 persen China Railway Corporation.
"Aneh kenapa tidak 100 persen saham dimiliki oleh BUMN Kenapa China Railway Corporation mendapatkan 40 persen saham,lalu apa prestasi CRC dalam proyek ini," tegas Arief.
Apakah akibat pinjaman sebesar 5,5 Miliar USD untuk projek KA Cepat Jakarta Bandung yang didapat dari China Bank Development .
Sedangkan pinjaman bank sebesar 5,5 miliar USD juga ditanggung oleh BUMN. Apakah tidak dihitung , Arief mempertanyakan, dengan pengunaan lahan milik BUMN yang digunakan untuk jalur KA Cepat .
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kereta-cepat-tiongkok_20150920_064925.jpg)