Prahara Partai Golkar
Idrus Marham: Ketua Umum Golkar Tidak Secara Otomatis Jadi Calon Presiden
Pascakonflik internal, ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar yang terpilih nanti, menurut Sekjen DPP Partai Golkar, Idrus Marham, harus
Editor:
Adi Suhendi
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pascakonflik internal, ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar yang terpilih nanti, menurut Sekjen DPP Partai Golkar, Idrus Marham, harus lah seseorang yang bisa merangkul semua pihak untuk membesarkan partai.
"Kita berpikir membesarkan, bukan menguasai. Menurut saya siapapun yang ingin menguasai harus disingkirkan sejak awal," kata Idrus dalam diskusi yang digelar di Jenggala Center, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (15/4/2016).
Dengan demikian, ketua baru dapat mengembalikan kejayaan partai.
Waktu sang ketua baru tidaklah lama hanya sekitar tiga tahun sebelum Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2019 mendatang.
Idrus yang juga berniat maju menjadi ketua umum, menegaskan bahwa untuk memenuhi tugas tersebut, ketua yang baru juga harus bersedia mengorbankan dirinya dan fokus melayani semua pihak.
Tidak boleh ketua baru hanya menjadikan partai sebagai batu loncatan untuk kekuasaan.
Ketua semacam itu menurutnya hanya akan membuat partai semakin terpuruk.
Saat ditanya apakah bila ia menang nanti, ia tidak akan tergiur untuk maju dalam pemilihan presiden 2019 mendatang, Idrus menyebut hal itu harus dikembalikan kepada mekanisme internal partai.
"Kita ada sistem. Ketua umum tidak secara otomatis jadi capres, tapi kita tanya pada rakyat," ucapnya.