Prahara Partai Golkar
Kubu Azis Syamsuddin Cueki Tommy Soeharto
Hingga kini Tommy tidak terlihat serius untuk bertarung dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa di Bali pada 15 Mei 2016 mendatang.
Penulis:
Amriyono Prakoso
Editor:
Dewi Agustina
Akbar tak menekankan apakah dia mendukung Tommy untuk maju dalam pemilihan ini. Namun, Akbar menilai bahwa putra Presiden kedua RI tersebut sudah cukup lama di Golkar dalam memperoleh pengalaman berorganisasi.
Hal tersebut terlebih lagi jika dilihat dari segi pengalaman dengan organisasi yang berafiliasi dengan Partai Golkar.
"Beliau seorang kader Golkar. Menurut catatan yang ada, beliau sudah aktif di Satkar Ulama sejak tahun 1990-an," tutur Akbar.
Ia mengemukakan, Tommy memiliki hak untuk ikut mencalonkan diri sebagai calon ketua umum Partai Golkar. Justru, Akbar mengatakan, langkah Tommy perlu mendapat apresiasi. Meski demikian, pada akhirnya, hanya peserta munaslub yang menentukan ketua umum Partai Golkar berikutnya.
"Kalau memang beliau merasa terpanggil, tentu kami perlu berikan apresiasi juga terhadap keterpanggilan dia," ujarnya.
Pengamat politik LIPI, Siti Zuhro menilai kehadiran Tommy Soeharto pada bursa pencalonan ketua umum di Munaslub Partai Golkar diyakini hanya akan menjadi pemecah suara. Pemecah suara ini ditujukan demi menguntungkan salah seorang kandidat.
"Pastinya sebelum ada munas, ada lobi, ada perbincangan dulu. Biasanya politik kan gitu," kata dia.
Sejauh yang terpantau media, baru Ade Komarudin yang kedapatan "sowan" ke Keluarga Cendana. Tim sukses Ade, Bambang Soesatyo, bahkan mengklaim, Tommy akan mendukungnya saat munaslub. Namun, belakangan, nama Tommy justru masuk ke dalam bursa pencalonan.
Siti melihat, pengaruh Keluarga Cendana di Partai Golkar sudah tak sebesar seperti era Orde Baru. Hal itu disebabkan adanya transformasi sosial dan transformasi politik di tubuh partai berlambang pohon beringin tersebut.
"Sebaliknya, Golkar membutuhkan sosok yang sudah malang melintang di Golkar, bagaimana memahami nilai-nilai ke-Golkar-an, nilai-nilai baru yang diharapkan eksternal dapat meminimalkan penggunaan politik uang," ujarnya seraya menambahkan, Golkar seharusnya menjadi role model bagi parpol lain dalam menjalankan politik.
Ketua Steering Committee Munaslub Golkar Nurdin Halid memastikan waktu penyelenggaraan Munaslub Partai Golkar kembali berubah. Munaslub yang dijadwalkan pada 23 Mei 2016 di Nusa Dua, Bali, dimajukan menjadi tanggal 15 Mei.
"Setelah kami koordinasi dengan pihak Istana, Munas kami majukan 15 Mei di Bali," kata Nurdin Halid.
Nurdin menegaskan, perubahan jadwal ini untuk menyesuaikan dengan agenda Presiden Joko Widodo. Presiden tak bisa hadir pada tanggal 23 Mei untuk membuka Munaslub sehingga jadwal acara dimajukan.
"Tidak ada kaitannya dengan politik," ucap Nurdin.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menilai kehadiran Presiden sangat penting karena bisa menandakan bahwa Munaslub yang diselenggarakan tersebut mendapat dukungan pemerintah.