Kamis, 16 April 2026

Soal Kudeta 1965, Sukmawati Soekarnoputri: Memang Terjadi

Sukmawati Soekarnoputri memberi pernyataan mengejutkan soal dalang di balik penculikan terhadap sejumlah jenderal. Berikut penjelasan dia.

Editor: Y Gustaman
Tribunnews.com/Nurmulia Rekso Purnomo
Sukmawati Soekarnoputri usai mengisi diskusi publik, "30 September: Rekonsiliasi dan Sejarah Masa Depan Indonesia," di Para Syndicate, Jalan Wijaya Timur 3, No 2A Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (30/92016). TRIBUNNEWS.COM/NURMULIA REKSO PURNOMO 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nurmulia Rekso Purnomo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pada 31 September 1965 atau 61 tahun yang lalu Pemerintah Indonesia pernah mengalami kudeta diawali penculikan terhadap sejumlah jenderal.

Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai peristiwa Gerakan 30 September yang melibatkan Partai Komunis Indonesia atau G 30 S PKI.

Sukmawati Soekarnoputri, putri keempat Presiden ke-1 Republik Indonesia Sukarno mengakui upaya kudeta saat itu memang ada dan berhasil.

Setelah berbagai peristiwa yang dituduh pemerintah saat itu dilakukan oleh PKI, ayahnya secara perlahan lengser dari jabatan Presiden.

"Ayah saya dijadikan tahanan rumah. Menteri-menterinya ditangkap semua, tanpa proses peradilan yang jelas," ujar Sukmawati dalam diskusi publik, "30 September: Rekonsiliasi dan Sejarah Masa Depan Indonesia," di Para Syndicate, Jalan Wijaya Timur 3, No 2A Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (30/92016).

Versi yang dicatat pemerintah, PKI menunggangi sejumlah tokoh termasuk tokoh di angkatan bersenjata saat itu yang mencoba melakukan kudeta.

Setelahnya, TNI AD yang dipimpin Mayor Jenderal Suharto menumpas gerakan PKI. Aksi itu menyebabkan pembunuhan massal terhadap anggota PKI, tanpa proses peradilan yang tepat.

Saat peristiwa 1965, Sukmawati masih berusia 13 tahun. Ia ingat betul ayahnya yang telah mewakafkan hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia mendapat perlakuan buruk. Menurut dia masih banyak tanda tanya seputar peristiwa tersebut.

Atas aksi penculikan para jenderal, Letkol Untung dan anak buahnya dituding sebagai biang keladinya. Hingga akhirnya anggota TNI AD yang sempat ikut memerdekakan Indonesia itu mendekam di penjara.

Sukmawati tidak yakin Letkol untung bermodalkan satu peleton tentara mampu menculik para jenderal, termasuk pimpinan tertinggi AD saat itu, Jenderal Ahmad Yani.

"Kalau tidak ada dukungan dari kekuatan lebih besar, pasti tidak mungkin terjadi," kata Sukmawati.

Persidangan Letkol Untung dan rekan-rekannya, kata Rachmawati, masih penuh tanda tanya. Ia sangsi apa yang dipercaya pemerintah mengenai apa yang sebenarnya tejadi saat itu.

Setelah peristiwa 1965, Sukarno menjalani tahanan rumah meski masih berstatus Presiden RI. Tapi, Rachmawati menilai ayahnya dipaksa Suharto menyerahkan kewenangan mengurus negara. Hingga akhirnya Suharto dilantik menjadi Presiden ke-2 RI.

"Menurut saya kudeta itu ada, sudah terjadi dan bukan oleh PKI. Oleh siapa? Ya Dewan Jenderal itu. Tapi siapa di balik mereka? Siapa yang berkepentingan melakukan kudeta di Indonesia," ucap dia.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved