Menteri Susi Emoh Dipanggil dengan Sebutan Doktor

Dia justru mengancam akan mengutip denda bila ada yang berani memanggilnya dengan sebutan akademis tersebut.

Menteri Susi Emoh Dipanggil dengan Sebutan Doktor
TRIBUNNEWS.COM/RICHARD
Menteri Susi Pudjiastuti 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti enggan dipanggil doktor saat berkunjung ke Tokyo, Jepang. 

Dia justru mengancam akan mengutip denda bila ada yang berani memanggilnya dengan sebutan akademis tersebut.

"Awas lo jangan panggil saya pakai Doktor nanti saya denda satu juta dolar," ujarnya disambut tawa hadirin.

Diakuinya saat ditawarkan mendapatkan gelar Doktor tersebut oleh Universitas Indonesia dia semula tak mau.

"Kalau saya dapat gelar itu harus ikut test ya. Alhamdullilah saya diuji dan dapat angka 9 dan tampaknya jadi Doktor harus dapat angka sembilan kata mereka," kembali disambut tawa yang hadir kemarin (12/4/2017).

Dalam dialog bersama Radio Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Jepang, Susi menjawab pertanyaan seputar kewanitaan dan riwayat pendidikannya.

"Saya tak pikir meng-underestimate laki-laki. Wanita kalau mau maju ya lupakan gender. Semua same opportunity sama kesempatan dan sama achievement yang bisa kita lakukan. Wanita just do it. Kalau pikir gender ya wanita sendiri yang buat barrier justru. Memang kita akui ada beda fisik, itu saja. Tapi lainnya sama kok. Buat apa kita wanita yang batasi sendiri hal tersebut soal achievement? Kita bisa sukses sama dengan lelaki kok," tekannya.

Kedua pertanyaan mengenai sekolah Susi yang hanya sampai SMP.

"Mengapa saya berhenti sekolah, karena saya tidak cocok dengan sistim sekolahan. I choose my own way. Saat itu saya belum tahu kerja apa. Saya cuma tidak cocok saja sama skeolah saat itu lalu saya take a different way."

Mengingat masa lalunya itulah, Susi memberikan nasihat kepada pelajar Indonesia dan masyarakat Indonesia di Jepang agar memanfaatkan kehidupannya dengan baik selama di Jepang.

Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved