Senin, 8 Juni 2026

Feri Amsari: Kriminalisasi Kritik Akan Terus Berulang Jika Negara Berperspektif Otoriter

Pelaporan terhadap akademisi dan aktivis yang menyampaikan kritik ke pemerintah menunjukkan negara tidak nyaman pada kebebasan berpendapat.

Tayang:

Ringkasan Berita:
  • Feri Amsari nilai pelaporan terhadap akademisi dan aktivis yang menyampaikan kritik ke pemerintah menunjukkan gejala negara yang tidak nyaman pada kebebasan berpendapat.
  • Peristiwa serupa akan terus berulang apabila negara memiliki perspektif otoritarianisme dan memandang kritik sebagai ancaman.
  • Feri menilai kritik yang disampaikan justru merupakan bagian dari pelaksanaan hak konstitusional warga negara untuk mengawasi jalannya pemerintahan.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar hukum tata negara Feri Amsari menilai pelaporan terhadap akademisi dan aktivis yang menyampaikan kritik kepada pemerintah menunjukkan gejala negara yang tidak nyaman terhadap kebebasan berpendapat.

Menurut Feri, peristiwa serupa akan terus berulang apabila negara memiliki perspektif otoritarianisme dan memandang kritik sebagai ancaman.

"Jadi bagi saya peristiwa seperti ini akan terus berulang kalau negaranya adalah negara yang punya perspektif otoritarianisme. Tidak nyaman dengan kebenaran yang disampaikan," kata Feri dalam jumpa pers di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Jakarta, Jumat (05/06/2026).

Feri mempertanyakan anggapan bahwa pandangan yang disampaikan oleh sejumlah akademisi dan aktivis dapat mengganggu negara.

Ia menilai kritik yang disampaikan justru merupakan bagian dari pelaksanaan hak konstitusional warga negara untuk mengawasi jalannya pemerintahan.

"Emang kebenaran yang disampaikan oleh Prof Ipung, Cak Islah, Ray Rangkuti, dan lain-lain itu mengganggu negara? Enggak sama sekali,” ujarnya. 

“Yang terganggu biasanya adalah ketika negara otoriter publiknya menyampaikan kebenaran, itu enggak nyaman betul," lanjut dia.

Baca juga: Itho Simamora Klaim Pelaporan terhadap Feri Amsari Buntut Keresahan Petani

 

Rakyat Pemegang Kedaulatan

Feri menjelaskan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, rakyat merupakan pemegang kedaulatan. 

Maka dari itu, rakyat memiliki hak untuk menyampaikan pendapat dan mengkritik penggunaan kekuasaan oleh negara.

Menurutnya, negara memang diberikan kewenangan dan alat kekuasaan. 

Namun rakyat memiliki kedaulatan untuk mengawasi dan mengkritisi penggunaan kewenangan tersebut.

"Tapi yang memegang kedaulatan untuk mengkritisi bagaimana mereka bisa bekerja dengan alat-alat itu secara benar adalah kita," katanya.

Feri mengatakan kekuatan utama rakyat sebagai pemegang kedaulatan terletak pada kebebasan berpikir dan menyampaikan pendapat. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved