Jaksa Agung Sebut Penyimpangan Karen Terkuak karena Tak Adanya Persetujuan Komisaris

Prasetyo mengatakan pihaknya menemukan adanya pengambilan keputusan investasi yang tidak disertai adanya studi kelayakan

Jaksa Agung Sebut Penyimpangan Karen Terkuak karena Tak Adanya Persetujuan Komisaris
ist
Karen Agustiawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jaksa Agung HM Prasetyo mengatakan pihaknya terus menelusuri kasus dugaan korupsi yang menimpa mantan Dirut Pertamina Karen Galaila Agustiawan.

Diketahui, Karen telah ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi investasi yang dilakukan PT Pertamina di Blok Basker Manta Gummy Australia pada 2009 silam.

Prasetyo mengatakan pihaknya menemukan adanya pengambilan keputusan investasi yang tidak disertai adanya studi kelayakan (feasibility study) dan persetujuan dewan komisaris.

"Komisarisnya pun belum memberikan persetujuan, padahal sebenarnya kan harus ada persetujuan. Ternyata menurut bukti yang ada, itu semuanya dilanggar, itu makanya kita nyatakan ada unsur penyimpangan-penyimpangan di sana," ujar Prasetyo, di kantornya, Jl Sultan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (10/4/2018).

Ia juga memastikan bila yang bersangkutan merugikan keuangan negara. Berdasarkan penelusuran Kejaksaan Agung, kerugian negara mencapai lebih dari Rp 560 miliar.

Baca: Jasriadi Hanya Divonis 10 Bulan, Jaksa Agung Minta Jaksa Banding

"Ya yang pasti dia memperkaya orang lain, merugikan orang lain, merugikan keuangan negara. Nah kerugiannya itu kan sudah pasti ada Rp 560 miliar lebih," katanya.

Sebelumnya, investasi Pertamina diduga menyimpang mulai dari tahapan pengusulan investasi.

Selain Karen, Kejagung menetapkan tiga orang tersangka yakni Chief Legal Counsel and Compliance Pertamina saat kasus terjadi, berinisial GP; mantan Direktur Keuangan Pertamina berinisial FS dan mantan manajer MNA Direktora Hulu Pertamina.

Dalam kasus ini, Karen sudah dicegah Imigrasi ke luar negeri. Masa cegah Karen diperpanjang hingga 4 Oktober 2018, setelah Karen ditetapkan sebagai tersangka.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved