Niluh Djelantik: Anggota DPR Harusnya Tak Punya Saku Baju dan Celana Agar Tak Korupsi
Ni Luh Putu Ary Pertami atau Niluh Djelantik (42) punya bayangan sendiri tentang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ideal.
Penulis:
Gita Irawan
Editor:
Dewi Agustina
Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Seorang perempuan perancang sepatu sekaligus pemilik merek dagang sepatu kelas dunia asal Bali, Ni Luh Putu Ary Pertami atau Niluh Djelantik (42) punya bayangan sendiri tentang anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang ideal.
Usai menjalani proses wawancara seleksi calon anggota legislatif Partai Solidaritas Indonesia (PSI), perempuan kelahiran 15 Juni 1975 di Desa Batur Selatan, Kintamani, Bali itu mengatakan bahwa idealnya seorang anggota DPR memakai pakaian yang tidak memiliki saku celana atau baju saat bekerja dalam arti kiasan.
"Nggak ada kantong beginian nih di DPR, nggak ada ember-ember di bawah meja. Nah ini ada kantong, nggak bisa diisi nih. Dan setiap kantor itu ada CCTV, ada sensor, yang walaupun memang nggak dipasang kita tahu ada Tuhan," kata Niluh sambil menunjuk celana dan kemejanya yang tanpa saku.
Niluh mengungkapkannya karena melihat banyaknya anggota dewan yang seharusnya mewakili kepentingan rakyat namun justru terjerat kasus korupsi.
Sementara di sisi lain ia juga menilai pejabat yang ia anggap bersih justru harus dipenjara karena kasus lainnya.
Ia pun mulai berpikir dan perlahan memperhatikan dunia perpolitikan tanah air sejak tahun 2014. Ia sendiri tidak menyangka akan masuk ke dunia politik.
Baca: Sumarni Menangis Histeris di Pelukan Suaminya saat Jenazah Kompol Andi Chandra Tiba di Rumah Duka
"Untuk menjadi wakil rakyat nggak terbersit sama sekali waktu itu. Waktu itu aku lihat kita punya pelayan rakyat yang kebijakan-kebijakan untuk rakyatnya udah dijalankan sama mereka, contohnya Pak Ahok, Pak Jokowi, Ibu Risma. Kupikir aku udah ok, kita lanjutkan hidup kita. Aku dengan sepatuku. Tapi semakin ke sini kok semakin nggak fair (adil). Yang bagus tersingkir, yang mau bekerja harus masuk penjara," ungkap Niluh.
Saat itulah anak dari pasangan Ni Nyoman Palmi dan Putu Djelantik itu mengaku mulai perlahan mendelegasikan wewenangnya sebagai salah satu pendiri PT Talenta Putra Dewata di kantornya kepada pegawai-pegawainya di sana.
Hal itu dilakukannya karena menurut Niluh, dia telah selesai menjalankan kewajibannya sebagai pengusaha sepatu seperti kerja keras, mensejahterakan karyawan, membayar pajak, mengajar, dan mendandani perempuan-perempuan yang merupakan kliennya dengan sepatu karyanya.
"Tapi aku tahu aku akan pergi suatu hari nanti dari si Ni Luh ini. Aku nggak tahu apakah jalannya nanti aku akan menjadi pembina UKM atau aku akan menjadi guru atau aku akan pergi ke kampung-kampung, atau apakah aku akan terjun ke politik. 2014 itu aku pelan-pelan mulai mendelegasikan wewenangku di kantor ke anak-anak di sana," ungkap Niluh.

Perempuan yang sepatunya telah dimiliki oleh aktris papan atas dunia seperti Julia Roberts dan Cameron Diaz itu mengatakan dirinya telah membudayakan transparansi di kantornya sejak ia menjalankan usahanya pada tahun 2003.
Bahkan nilai tersebut disebarkannya dari jabatan tertinggi hingga terendah sekali pun.
Hal itu menjadi penting baginya agar semua pegawainya merasa dihargai dan menguasai apa yang mereka kerjakan.