Pilpres 2019

Aiman Kompas TV: Rusuh Pasca Pilpres, Apa yang Dituju?

Ada dugaan bahwa 9 korban tewas dalam kerusuhan tersebut dieksekusi di sebuah tempat, lalu sejumlah dari korban ini didrop di tempat kerusuhan.

Aiman Kompas TV: Rusuh Pasca Pilpres, Apa yang Dituju?
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Brimob menembakan gas air mata untuk membubarkan massa saat terjadi bentrokan di sekitar Jalan MH Thamrin Jakarta, Rabu (22/5/2019). Aksi massa yang menuntut pengungkapan dugaan kecurangan Pilpres 2019 berujung bentrok saat massa mulai menyerang polisi. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kerusuhan pasca pilpres, 21-22 Mei lalu masih mengundang sejumlah pertanyaan.

Termasuk di antaranya, apa tujuan yang hendak dicapai dari aksi rusuh massa di beberapa titik lokasi di Jakarta ini.

Namun sebuah informasi baru mencuat.

Ada dugaan bahwa 9 korban tewas dalam kerusuhan tersebut dieksekusi di sebuah tempat, lalu sejumlah dari korban ini didrop dan diletakkan di tempat kerusuhan, Petamburan, Jakarta Pusat, benarkah?

Baca: Kisah Luhut Binsar, 'Dihabisi' saat Orba hingga Menjadi Jenderal HOR dan Melarang Anak Masuk Akmil

Dugaan ini lantas diperkuat oleh seorang peneliti senior yang juga merupakan Ketua Tim Investigasi Kerusuhan 98, Hermawan Sulistyo atau yang akrab disapa Kiki.

Polisi bertahan dari lemparan batu para demonstran yang ricuh di dekat gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Rabu (22/5/2019) malam.
Polisi bertahan dari lemparan batu para demonstran yang ricuh di dekat gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Rabu (22/5/2019) malam. (KOMPAS.com/RODERICK ADRIAN MOZES)

Menurut Kiki, jika para korban tewas ini dieksekusi di lokasi kerusuhan, maka seharusnya ada saksi yang melihat.

Namun hal ini tidak terjadi lantaran tak ada satupun saksi yang melihat aksi penembakan meski di lokasi terdapat ribuan massa kerusuhan.

Tak hanya itu, Kiki juga mengutarakan adanya tujuan besar yang hendak dicapai dalang dari kerusuhan ini?

Apakah itu?

Selain Hermawan Sulistyo, jurnalis KompasTV Aiman Witjaksono juga mewawancarai Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan.

Menurut peneliti senior ini, pasca kerusuhan 22 Mei, ada peningkatan rasa takut di masyarakat untuk berbicara politik.

UNJUK RASA-Ribuan massa Aksi 22 Mei  di depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/209). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu serentak 2019. WARTA KOTA/henry lopulalan
UNJUK RASA-Ribuan massa Aksi 22 Mei di depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (22/5/209). Aksi unjuk rasa itu dilakukan menyikapi putusan hasil rekapitulasi nasional Pemilu serentak 2019. WARTA KOTA/henry lopulalan (WARTA KOTA/henry lopulalan)

Apakah hal ini lantas membuat masyarakat semakin enggan untuk berbicara politik dan takut berdemokrasi? 

Saksikan program AIMAN dalam episode "Rusuh Pasca Pilrpres, Apa Yang Dituju?" yang akan tayang pada Senin 24 Juni 2019 pukul 20.00 WIB di KompasTV. (Chandra Kriftaningtyas/KompasTV) 

Editor: Dewi Agustina
Sumber: Kompas TV
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved