Menebak Arah Pertemuan Empat Parpol Pendukung Jokowi-Maruf yang Tak Dihadiri PDI-P

Sebagian ketua umum partai politik koalisi pendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam Pemilu 2019 berkumpul di kantor DPP Nasdem, Senin (22/7/2019).

Menebak Arah Pertemuan Empat Parpol Pendukung Jokowi-Maruf yang Tak Dihadiri PDI-P
Fransiskus Adhiyuda/tribunnews.com
Ketua Umum Nasdem Surya Paloh mengumpulkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartanto dan Plt Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa di kantor DPP Nasdem, Gondangdia, Jakarta Pusat, Senin (22/7/2019) malam. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebagian ketua umum partai politik koalisi pendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam Pemilu 2019 berkumpul di kantor DPP Nasdem, Senin (22/7/2019).

Hadir Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto, Ketua Umum PPP Suharso Monoarfa dan Ketua Umum Nasdem Surya Paloh sendiri sebagai tuan rumah.

Tamu-tamu Surya Paloh itu tidak datang bersamaan.

Sejak Senin siang hingga petang, masing-masing ketum mendatangi markas Nasdem secara bergantian.

Dari pantuan Kompas.com, Muhaimin atau yang akrab disapa Cak Imin adalah ketum parpol yang datang pertama kali.

Baca: Sekjen NasDem: Kemungkinan Hanya Ada Dua Paket Pimpinan MPR

Ia tiba sekitar pukul 11.00 WIB.

Namun, 90 menit kemudian, Cak Imin keluar dari Kantor DPP Nasdem.

Tidak lama kemudian, giliran Suharso Manoarfa yang datang ke DPP Nasdem, yakni sekitar pukul 13.45 WIB.

Namun, pertemuanya dengan Surya Paloh tidak berlangsung lama.

Pasalnya, pada pukul 14.17 WIB, dia sudah keluar dari DPP Nasdem.

Sekitar pukul 18.30 WIB, Airlangga datang ke markas Nasdem yang terletak di bilangan Gondangdia tersebut.

Pertemuanya dengan Surya berlangsung berlangsung cukup lama.

Sekitar pukul 19.40 WIB, Airlangga keluar dari DPP Nasdem dan bergegas masuk ke mobil pribadinya.

Ketika hendak keluar kantor Nasdem, ketiga ketum parpol itu kompak menjawab singkat perihal pertemuannya dengan Surya, yakni "menjaga soliditas sesama anggota koalisi".

Baca: Koalisi Indonesia Kerja Tolak Syarat Rekonsiliasi 55:45 Persen Amien Rais

Selang sekitar satu jam kemudian, ketiga ketum parpol itu kembali ke Markas Nasdem.

Mereka tidak berkomentar apapun ketika para jurnalis sempat menghadang.

Seiring dengan itu, beredar informasi di kalangan jurnalis bahwa keempat ketum parpol itu akan menggelar konferensi pers pukul 21.00 WIB.

Soliditas hingga Tolak Anggota Baru

Tepat pukul 21.00 WIB, konferensi pers dimulai.

Empat ketum parpol itu duduk berhimpitan dengan meja di depannya.

Sementara di belakang mereka, berdiri sekretaris jenderal partai masing-masing.

Tidak tampak ketua umum atau elite parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf lain.

Misalnya PDI Perjuangan, Hanura, Perindo, PSI dan PBB.

Baca: Pertemuan Ketum Parpol Koalisi Pendukung Jokowi-Ma’ruf

Airlangga yang mendapatkan kesempatan berbicara pertama mengatakan, koalisi parpol pendukung Jokowi-Ma'ruf tidak memiliki sekat dan tetap solid mendukung pemerintahan lima tahun ke depan.

"Komitmen kami mendukung pemerintahan Pak Jokowi lima tahun ke depan bulat dan solid serta konsisten. Dengan ini, menunjukkan bahwa tidak ada sekat antara partai-partai pendukung pemerintah," ujar Airlangga.

Dengan soliditas ini, lanjut Airlangga, sesama anggota koalisi Jokowi-Ma'ruf akan terus membangun komunikasi demi melancarkan agenda-agenda politik ke depan.

Airlangga juga berharap soliditas dapat terus terjaga.

Seluruh dinamika politik yang ada pun akan diputuskan lewat keputusan yang kolektif kolegial.

Baca: PKB: Koalisi Partai Politik Jokowi-Maruf Amin Tak Butuh Gerbong Besar

Sementara itu, Surya Paloh menegaskan, pertemuan yang membahasan soliditas ini tidak ada hubunganya dengan ada atau tidaknya gesekan antarparpol.

Ia menuturkan, seluruh parpol koalisi Jokowi-Ma'ruf masih bersama Presiden Jokowi.

"Kami masih berada di bawah naungan kebersamaan dalam koalisi pengusung pemerintahan ini, tetap harus bisa mempertahankan nilai-nilai soliditas yang kami miliki," tutur Surya.

Senada dengan Airlangga dan Surya, Muhaimin atau yang akrab disapa Cak Imin juga menyatakan soliditas antarparpol koalisi Jokowi-Ma'ruf harus terus terjaga.

Ia berharap, soliditas itu tidak terpecah karena polemik terkait isu rebutan jabatan.

"Pertemuan antarpartai koalisi yang menyukseskan Jokowi-Ma'ruf ini mutlak dan harus terjaga dengan baik. Jangan sampai berita-berita yang muncul menyebabkan koalisi antara kita terpecah," ujar Cak Imin.

Dia menuturkan, isu yang muncul di masyarakat saat ini, seperti rebutan jabatan menteri dan ketua serta pimpinan MPR periode 2019-2023 seolah-olah benar terjadi di dalam koalisi Jokowi-Ma'ruf.

"Kita diadu seolah-olah rebutan apa. Padahal enggak ada sama sekali. Enggak ada perebutan (jabatan) antarpartai atau koalisi. Solidaritas koalisi Jokowi lima tahun ke depan akan terus dijaga," lanjut dia.

Baca: Ketika Sejumlah Politisi Parpol Pendukung Jokowi-Maruf Menolak Wacana Menteri dari Non-Koalisi

Cak Imin juga meminta parpol koalisi untuk menomorduakan ego masing-masing terkait jabatan di kementerian atau lembaga pemerintah untuk periode mendatang.

Menurutnya, ego partai akan menganggu produktivitas dan kesolidan koalisi.

Jika ada permasalahan dalam koalisi, lanjutnya, ia berharap dapat diselesaikan secara musyawarah.

Prinsipnya, kebersamaan dan kesolidan parpol menjadi kunci sukses pemerintahan Jokowi lima tahun ke depan.

"Apapun perkembangan ke depan, kita sikapi secara musyawarah bersama-sama. Termasuk apakah koalisi dikembangkan atau tidak insya Allah sepakat bersama-sama dan diskusi," ujar dia.

Suharso pun mengatakan hal senada. ia mengaku, hingga kini partai koalisi Jokowi-Ma'ruf mengaku belum membahas kemungkinan oposisi masuk ke kursi pemerintahan.

Kini, yang menjadi fokus koalisi adalah menguatkan kesolidan dan kesatuan antarpartai koalisi.

"Kami punya satu kesimpulan sementara, kita belum mengangendakan hal semacam itu (masuknya oposisi) jadi mungkin ada waktunya," kata Suharso.

"Kami ingin kekentalan koalisi itu semakin erat dan soliditas terjaga," sambung dia.

Koalisi dalam Koalisi?

Pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno cukup heran dengan konferensi pers empat ketum parpol ini.

Sebab, ia menilai, tidak ada latar belakang peristiwa yang sangat kuat saat ini sehingga Surya Paloh, Cak Imin, Airlangga dan Suharso mesti menggelar konferensi pers khusus dan berbicara mengenai soliditas di antara sesama parpol koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf.

Syarif justru lebih melihat keempat ketum parpol ini telah membentuk koalisi di dalam koalisi Jokowi-Ma'ruf.

Dasar terbentuknya mereka diprediksi hanya satu, yakni tidak ingin ada parpol baru masuk ke dalam koalisi Jokowi-Ma'ruf.

"Terlihatnya memang seperti ada koalisi di dalam koalisi. Dari pertemuan itu menimbulkan pertanyaan penting, kenapa PDI-P tidak hadir Soliditas yang mereka bicarakan itu pun maknanya tersirat. Pesannya kepada Jokowi adalah jangan memberikan karpet merah kepada mereka (partai pendukung Prabowo-Sandiaga)," ujar Adi saat dihubungi via telepon, Selasa malam.

Baca: Ketika Parpol Pendukung Ramai-ramai Menolak Gerindra Gabung Koalisi Jokowi

Meski demikian, Adi menilai, manuver ini wajar terjadi.

Pasalnya, seusai sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi (MK), ada partai-partai yang disinyalir ingin bergabung ke koalisi pemerintahan, yakni Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Demokrat.

"Kalau mau ditafsirkan, memang keempat parpol ini (PKB, Golkar, Nasdem, dan PPP) intinya menolak partai pendukung Prabowo masuk ke koalisi pemerintahan. Mereka juga menyampaikan pesan tersirat ke Jokowi untuk tidak membuka hati, apalagi keempat partai ini konsisten menolak adanya penambahan parpol ke koalisi," lanjut Adi.

Selain didasari atas penolakan terhadap anggota koalisi baru, Adi juga melihat, koalisi empat parpol ini juga didasari atas perebutan kursi pimpinan MPR RI.

"Gerindra sempat menyatakan ketertarikannya mendapatkan kursi Ketua MPR. Mereka beralasan mendapatkan jatah kursi Ketua MPR untuk menjaga harmonisasi politik. Sementara itu, PKB dan Golkar juga menginginkan kursi Ketua MPR. Jadi, keempat partai ini tidak ingin ada sharing power," jelas Adi.

Baca: PDI Perjuangan Buka Komunikasi dengan Koalisi Prabowo soal Pemilihan Pimpinan MPR

Jika dibiarkan, tentu manuver empat partai politik ini akan berdampak buruk bagi pemerintahan baru.

Adi pun menyarankan kepada Jokowi-Ma'ruf untuk kembali menyolidkan partai-partai di koalisinya.

Jokowi, lanjutnya, perlu membangun kebersamaan dan mengingatkan kepada seluruh partai pendukung bahwa koalisi dibentuk berdasarkan visi dan misi yang sama dalam membangun negara.

"Yang paling penting, Jokowi juga perlu mewadahi keinginan parpol yang dibahas dan diputuskan secara musyawarah," sambung dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Manuver 4 Ketum Parpol Jokowi-Ma'ruf di Tengah Isu Tambahan Koalisi..." (Christoforus Ristianto)

Editor: Daryono
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved