Kepala BPPT: Sinergi dan Kolaborasi, Kata Kunci Berhasilnya Inovasi

e--KTP merupakan hasil kerjasama yang solid antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan sejumlah pihak

Kepala BPPT: Sinergi dan Kolaborasi, Kata Kunci Berhasilnya Inovasi
Fitri Wulandari/Tribunnews.com
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza. 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hadirnya inovasi yang banyak dirasakan dampaknya oleh masyarakat, seperti e-KTP merupakan hasil kerjasama yang solid antara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan sejumlah pihak, baik dari pemerintah maupun swasta.

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala BPPT Hammam Riza, saat memberikan paparannya dalam acara Program Pendidikan Lemhanas Angkatan XXII bertajuk 'Sinergi dan Kolaboras n-Helix di Era Revolusi Industri 4.0 untuk Kesejahteraan Bangsa'.

Ia kemudian menekankan bahwa kunci dari keberhasilan tersebut adalah sinergi dan kolaborasi.

"Jadi kata kuncinya ada di Sinergi dan Kolaborasi, 'tidak ada Super Man', yang ada itu Super Team," ujar Hammam, di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Jakarta Pusat, Rabu (31/7/2019).

Menurutnya, sinergi tersebut sangat penting lantaran saat ini Indonesia menghadapi era revolusi industri 4.0.

"Terlebih saat ini kita sedang memasuki era revolusi industri 4.0, di mana peran teknologi komunikasi dan informasi sangat dominan di dalamnya," jelas Hammam.

Baca: Kepala BPPT Tegaskan Pesan Habibie akan Pentingnya SDM Iptek

Mantan Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam (TPSA) BPPT itu kemudian menyebut satu dari sejumlah sinergi positif yang dilakukan BPPT, yakni terkait mitigasi bencana.

Sinergi antara Kementerian dan Lembaga (K/L), dalam hal ini dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itulah yang akhirnya membuat pemerintah mengalokasikan anggaran khusus.

Anggaran tersebut dialokasikan untuk membangun Tsunami Early Warning System (TEWS) terintegrasi yang sangat dibutuhkan dalam upaya mitigasi bencana di Indonesia.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun bahkan memberikan arahannya secara langsung, pasca negara ini dilanda tsunami pada akhir 2018 lalu.

"Dengan adanya sinergi antar K/L ini, pemerintah mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk membangun TEWS," tegas Hammam.

Hammam menjelaskan tanggung jawab BPPT adalah membangun alat pendeteksi tsunami, yakni buoy dan Cable Based Tsunameter (CBT).

"BPPT bertugas untuk membangun buoy dan CBT-nya, yang nanti datanya akan disinergikan dengan sistem permodelan BMKG, serta di bawah koordinasi BNPB. Jadi ini dalam skala yang TSM, terstruktur, sistematis, dan masif,“ pungkas Hammam.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved