Sabtu, 30 Agustus 2025

Demo Tolak RUU KUHP dan KPK

7 Poin Pernyataan Sikap DPP IMM Sikapi Meninggalnya Mahasiswa Kendari Saat Berunjuk Rasa

Atas berbagai kondisi tersebut, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menyatakan sikap.

Editor: Hasanudin Aco
Ist/Tribunnews.com
Ketua Umum DPP IMM, Najih Prasetyo. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) mengeluarkan 7 poin pernyataan sikap menyikapi meninggalnya Randi, seorang mahasiswa Kendari Sulawesi Tenggara akibat aksi unjuk rasa kemarin.

Ketua Umum DPP IMM, Najih Prasetyo berita itu telah membuat publik gerah.

"Betapa tidak, Randi harus merenggut nyawa di tangan oknum pelaku penembakan peluru tajam yang tepat bersarang di dadanya," ujarnya Najih dalam keterangannya kepada pers, Jumat (27/9/2019).

Menurut dia, hal ini sekaligus membuka tabir “rahasia umum” yang terjadi dalam setiap kali pengamanan aksi yang dilakukan oleh Kepolisian seringkali tidak sesuai dengan standar prosedur pengamanan, dan tindakan represif dan kekerasan terhadap mahasiswa peserta aksi kerap kali terjadi di Indonesia.

Baca: Kronologi Penangkapan Ananda Badudu Usai Galang Dana Demo Mahasiswa, 04.25 WIB Pintu Rumah Digedor

Atas berbagai kondisi tersebut, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) menyatakan sikap:

1). IMM se-Indonesia menyatakan belasungkawa yang dalam atas meninggalnya Immawan Randi – mahasiswa yang menjadi korban jiwa dalam unjuk rasa di Kendari, Sulawesi Tenggara.

"Randi hingga menghembuskan nafas terakhirnya masih dalam perjuangan mengawal aspirasi rakyat," ujar Najih.

2). DPP IMM menegaskan kejadian meninggalnya Randi karena tertembak peluru tajam saat sedang melakukan aksi unjuk rasa merupakan preseden buruk yang tidak boleh terulang kembali.

"Hal ini cukup menjadi peristiwa yang terakhir, tidak boleh lagi ada nyawa yang hilang karena melakukan aksi perjuangan rakyat," ujar Najih.

3). DPP IMM mengecam berbagai tindakan represif pihak keamanan kepada mahasiswa yang melakukan aksi unjuk rasa. Pihak keamanan seharusnya mengedepankan cara-cara persuasif serta lebih manusiawi dalam upaya untuk menjaga kondusifitas selama berlangsungnya aksi.

Menurut Najih, tindakan represif dari pihak keamanan hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

"Kejadian tertembaknya Randi adalah satu dari sekian banyak tindakan represif yang kerap kali diterima oleh mahasiswa ketika sedang melakukan aksi unjuk rasa," katanya.

4). IMM dan mahasiswa menegaskan tidak akan bungkam karena tembakan peluru ini. IMM akan tetap dan selalu mengawal kepentingan rakyat Indonesia, tanpa rasa takut terhadap intervensi apapun dan dari siapapun.

"Sekaligus menegaskan bahwa gerakan IMM adalah gerakan yang murni berasal dari hati dan nurani mahasiswa tanpa ada tendensi maupun ditunggangi oleh kelompok tertentu," katanya.

5). DPP IMM mengajak seluruh kader beserta mahasiswa se-Indonesia untuk bersatu padu, secara bersama-sama untuk merapatkan barisan dalam menyuarakan aspirasi perjuangan rakyat.

"IMM dan mahasiswa adalah agen perubahan dan kontrol terhadap berbagai kebijakan maupun peraturan serta kondisi-kondisi yang berseberangan dengan kepentingan rakyat. IMM memastikan diri akan selalu berada di garis terdepan dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat yang tertindas," kata Najih.

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) melakukan aksi protes di depan Gedung Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/9/2019) malam. Dalam aksinya mereka menutup jalan untuk melakukan Salat Istiqasah dan menyalakan lilin sebagai bentuk duka cita atas meninggalnya Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, yang diduga tewas karena luka tembak saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara. Tribunnews/Jeprima
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) melakukan aksi protes di depan Gedung Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/9/2019) malam. Dalam aksinya mereka menutup jalan untuk melakukan Salat Istiqasah dan menyalakan lilin sebagai bentuk duka cita atas meninggalnya Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, yang diduga tewas karena luka tembak saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara. Tribunnews/Jeprima (Tribunnews/Jeprima)

6). DPP IMM mendesak kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) untuk mencopot Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Tenggara.

IMM menilai Kapolda Sultra adalah pihak yang paling bertanggung jawab karena telah lalai dalam melakukan pengawalan keamanan aksi unjuk rasa yang berujung jatuhnya korban jiwa yang tertembak dengan peluru tajam.

"Bukti meninggalnya Randi karena tertembak peluru tajam adalah bukti bahwa Kapolda gagal dalam melakukan kontrol internal dalam hal penerapan standar pengamanan aksi unjuk rasa," ujar Najih.

7). DPP IMM mendesak kepada pihak Kepolisian untuk segera melakukan investigasi terhadap meninggalnya Randi sampai dengan menemukan pelaku penembakan.

"Pelaku penembakan harus mempertanggungjawabkan tindakannya telah menghilangkan nyawa manusia. Pelaku harus ditindak dan diadili dengan seberat-beratnya," katanya. 

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan