Respons Pernyataan Moeldoko, Polisi Akan Tindak Buzzer yang Sebar Hoaks dan Ujaran Kebencian
Polri akan menindak atau memproses hukum para buzzer yang kedapatan menyebarkan hoax atau ujaran kebencian.
Penulis:
Vincentius Jyestha Candraditya
Editor:
Adi Suhendi
"Ya kita melihat dari emosi yang terbangun, emosi yang terbangun dari kondisi yang tercipta itu merugikan jadi ya yang perlu dibangun emosi positiflah," kata Moeldoko.
Berlebihan
Relawan media sosial, baik pendukung Jokowi-Ma'ruf maupun Prabowo-Sandi, merespons atas keinginan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menertibkan para buzzer atau pendengung berkonten negatif.
Selain merugikan, keberadaan buzzer tidak diperlukan lagi karena masa pemilu telah berakhir.
Priyo Kustiadi menjadi salah seorang pegiat medsos pendukung Jokowi-Ma'ruf sejak masa kampanye Pilpres 2019. Ia mengatakan, keinginan Moeldoko itu tidak tepat.
"Kata 'ditertibkan' itu saya rasa terlalu berlebihan dan itu kurang tepat. Karena penertiban itu kan agak sedikit melenceng dari kebebasan berpendapat," kata Priyo kepada Tribun, Sabtu (5/10/2019).
Ia pun menilai sulit menertibkan para buzzer karena mereka bergerak dalam bentuk individu, bukan tim.
Menurutnya, jika pemerintah ingin melakukan penertiban di jagat maya, maka yang harus ditertibkan adalah para influencer yang menyebarkan konten negatif seperti hoaks, bukan buzzer.
Sebab, satu influencer mempunyai banyak pengikut sehingga penyebaran konten yang diunggahnya di medsos terbilang cepat dan mempengaruhi opini banyak orang.
"Ada orang macam Dandhy Laksono yang mana orang tersebut berlaku sebagai partisipan publik terhadap pemerintah, punya follower banyak, tapi malah ditangkap, enggak seharusnya begitu," tambahnya.
Priyo mengaku mulai menjadi bagian relawan pendukung Jokowi-Ma'ruf sejak masa kampanye Pilpres 2019.
Ia begerak mengamplifikasi sejumlah konten di jagat maya secara pribadi, dengan mengunggah konten positif dan melawan isu negatif. Ia melakukan hal itu dengan menggunakan nama akun pribadi, bukan anonim.
Hingga kini, ia masih melakukan penyebaran konten di medsos.
"Sekarang karena sudah selesai Pilpres ya begini, istilahnya tidak seintens dululah rencana dan pembicaraannya. Waktu pilpres kan memang semua pasukan dipantau langsung oleh orang-orang TKN, oleh influencer lah," ujarnya.
Saat ini, Priyo mengaku saat ini tidak terlalu intens mengunggah konten di medsos seperti saat pilpres.