Kenang Tragedi Semanggi 1998, ‎Untaian Doa Sumarsih untuk Sang Putra dan Keadilan

Ibu dengan rambut beruban ini menaruh harapan. Menanti janji pemerintah mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM.

Kenang Tragedi Semanggi 1998, ‎Untaian Doa Sumarsih untuk Sang Putra dan Keadilan
TRIBUNNEWS.COM/THERESIA FELISIANI
Sumarsih hadir di Peringatan 21 tahun Tragedi Semanggi I, Rabu (13/11/2019) sore di sebrang Istana Negara, Jakarta. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com Theresia Felisiani

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ibu berpakaian hitam-hitam itu berdiri diam menatap megahnya gedung Istana Negara, tempat sang presiden berkantor.

Disanalah, ibu dengan rambut beruban ini menaruh harapan. Menanti janji pemerintah mengusut tuntas kasus pelanggaran HAM.

Dialah Maria Sumarsih, ibunda dari Bernardinus Realino Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Atma Jaya, Jakarta.

Anak sulung Sumarsih itu tewas diterjang peluru tajam yang mengenai jantung dan paru di dada kiri. Wawan dimakamkan Sabtu (14/11/1998) silam.

21 tahun setelah kepergian Wawan, Sumarsih tetap berjuang agar tragedi Semanggi 1, Jumat (13/11/1998) diselesaian melalui Pengadilan HAM ad hoc.

Hari itu, Rabu (13/11/2019) tepat 21 tahun tragedi Semanggi 1, Sumarsih bergabung dengan puluhan mahasiswa Atma Jaya menggelar aksi di sebrang Istana Negara, menyuarakan keadilan.

Dia berdiri diantara para mahasiswa yang menyanyikan lagu gugur bunga dan memanjatkan doa bagi senior mereka, Wawan.

"Bu Sumarsih", sapa Tribunnews mendekatinya. ‎Sumarsih menengok dan melempar senyum. Dengan ramah, dia berbagi cerita dan kenangan atas Wawan.

"Wawan tidak bisa kembali dan tidak dapat digantikan. Sampai sekarang Wawan tetap bersama saya," kata Sumarsih mengawali perbincangan sore itu.

Halaman
12
Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved