Natal dan Tahun Baru 2019

Menhub Upayakan Tiket Pesawat Saat Natal dan Tahun Baru 2019 Terjangkau

Budi Karya mengatakan, Kementerian Perhubungan secara intensif sudah melakukan persiapan jelang natal dan tahun baru

Tribunnews.com/Dennis Destryawan
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2019) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengupayakan harga tiket pesawat jelang natal dan tahun baru 2020 lebih terjangkau.

Budi Karya mengatakan, Kementerian Perhubungan secara intensif sudah melakukan persiapan jelang natal dan tahun baru.

Baca: Jelang Natal dan Tahun Baru, Menteri Budi Prediksi Kemacetan Banyak di Lokasi Wisata

Untuk persiapan di darat, ucap Budi Karya, ia telah berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk kesiapan kelancaran arus lalu lintas.

"Tetapi berkaitan dengan khusus, beberapa yang khusus itu, satu adalah yang udara," ujar Budi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (25/11/2019).

Budi akan mengupayakan harga tiket pesawat lebih terjangkau. Ia akan berkoordinasi dengan Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, terutama agar tak ada monopili avtur. Sehingga harga tiket bisa lebih terjangkau.

"Kita akan upayakan akan ada tarif yang lebih terjangkau dan tarif terjangkau itu bisa dipenuhi kalau avturnya dengan harga yang lebih murah. Dan kami akan melakukan rapat dengan Kementerian BUMN, dengan Pertamina untuk re-balancing tentang harga," tutur Budi.

Direktur Pemasaran Korporat, Pertamina, Basuki Trikora Putra, menuturkan pihaknya telah memenuhi standar internasional mengenai avtur.

81 persen avtur Pertamina didistribusikan untuk kebutuhan maskapai domestik. Sementara sisanya untuk maskapai internasional.

"Kami telah memenuhi seluruh standar internasional, karena bahan bakar avtur ini dipakai pesawat-pesawat dengan berbagai tipe produk. Dari persentase volume, 81 persen ke domestik dan 19 persen ke internasional," tutur Basuki.

Basuki memaparkan, saat rapat dengan Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, bahwa 31 persen volume avtur itu dipasok ke Garuda, 24 persen ke Lion Air, 9 persen ke Citilink, 8 persen ke Sriwijaya, serta sisanya ke maskapai domestik lainnya.

Baca: Menhub Budi Ungkap Potensi Pelabuhan Benoa untuk Pariwisata dan Logistik

Sementara untuk maskapai internasional, 12 persen untuk Qatar Airways.

"Secara regulasi, terbuka sesuai BPH Migas. Kepada siapa pun yang bisa memenuhi syarat BPH Migas untuk memasarkan avtur di Indonesia. Pertamina masih satu-satunya yang melayani seluruh pelanggan airlines di Indonesia," imbuh Basuki.

Penulis: Dennis Destryawan
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved