Jokowi: Masih Banyak yang Senang Impor Minyak, Untuk Bagi-bagi Keuntungan

Jokowi melihat, sudah 30 tahun lebih tidak ada pembangunan kilang minyak baru. Padahal, hal ini bermanfaat banyak, baik meningkatkan produsi minyak

Jokowi: Masih Banyak yang Senang Impor Minyak, Untuk Bagi-bagi Keuntungan
Grid.ID
Kebakaran sumur minyak di Kabupaten Aceh Timur pada Selasa (25/4/2018) dini hari. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) melihat masih banyak pihak yang senang impor minyak, dibanding melakukan terobosan mengurangi pemakaian komoditas tersebut. 

"Masih banyak yang seneng impor minyak. Gampang, menyelesaikan masalah dengan impor, itu paling mudah. Untungnya juga gede bisa dibagi ke mana-mana (kalau impor)," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Untuk menekan impor minyak, kata Jokowi, instansi terkait harus memaksimalkan sumur-sumur minyak di berbagai daerah, bukan malah menggantungkan impor minyak dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri. 

Baca: Jokowi Akui Beri Tugas Stafsus Milenial Mulai dari Kartu Prakerja, Nasabah Mekaar hingga Pendidikan

"Kita juga miliki sumur-sumur minyak yang bisa berproduksi ditingkatkan. Kalau betul-betul kurang, baru impor, bukan menggantungkan terus pada impor," papar Jokowi. 

Jokowi melihat, sudah 30 tahun lebih tidak ada pembangunan kilang minyak baru. Padahal, hal ini bermanfaat banyak, baik meningkatkan produsi minyak maupun produk turunannya. 

"Petrochemical itu bisa langsung larinya ke mana-mana, masa kita masih impor petrokimia, padahal kesempatan untuk membikin itu terbuka lebar dan tidak dikerjakan. Ini ada apa? Ini yang mau kita selesaikan ini," ujar Jokowi. 

Baca: Pemerintah Lobi Korsel Perluas Perjanjian Bebas Visa

 Selain itu, program campuran biodiesel 20 persen dengan solar 80 persen (B20) hingga B50 jika dijalankan secara berkelanjutan, Jokowi menyakini ke depan impor minyak dapat ditekan dan bisa menaikan harga minyak kelapa sawit.

"Problem kita bertahun-tahun itu defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan, tidak selesai-selesai karena kita tahu namanya impor migas (minyak dan gas) gede banget," tuturnya. 

Penulis: Seno Tri Sulistiyono
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved