Kamis, 7 Mei 2026

Imlek 2020

Imlek Bagian dari Mozaik Indah Bernama Indonesia

Gus Dur ingin semua masyarakat Indonesia bisa merayakan kebudayaannya masing-masing sebagai bagian dari mozaik indah bernama Indonesia.

Tayang:
Tribunnews/Herudin
Warga keturunan Tionghoa melakukan sembahyang di Vihara Amurva Bhumi, kawasan Karet Semanggi, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020) malam. Ibadah tersebut dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2571. Tribunnews/Herudin 

Setelah Gus Dur tiada, Yenny melanjutkan perjuangan ayahnya. Yenny menyampaikan pesan kepada masyarakat terkait perayaan Tahun Baru Imlek tahun ini.

Melalui perayaan ini Yenny berharap semua masyarakat Indonesia makin mengedepankan rasa persatuan dan kesatuan bangsa, serta saling menghormati.

Dia juga berharap bangsa Indonesia tidak saling menghujat dan menjelekkan dalam menyampaikan ekspresi kebudayaannya.

"Rumah besar yang namanya Indonesia itu macam-macam. Ada yang kriting, ada yang rambutnya lurus, ada yang sipit, ada yang belo, ada yang putih, ada yang kecokelat-cokelatan," ujar Yenny di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Kamis (23/1/2020).

"Kita adalah penduduk atau pemilik rumah yang bernama Indonesia," sambung Yenny.

Oleh karena itu, Yenny menilai sudah sepatutnya semua rakyat Indonesia saling menjaga rumahnya agar tetap utuh. Yenny menekankan perlunya bangsa Indonesia memiliki rasa memiliki.

Titik Balik

Dikutip dari harian Kompas, Sekretaris Dewan Rohaniwan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Budi Tanuwibowo masih ingat kejadian yang melatarbelakangi pencabutan Inpres tersebut.

Prosesnya terbilang cepat, malah membuat Budi kaget terhadap sikap Gus Dur itu.

"Waktu itu kami ngobrol sambil berjalan mengelilingi Istana. Gus Dur lalu bilang, oke, Imlek digelar dua kali, di Jakarta dan Surabaya untuk Cap Go Meh. Kaget juga saya," kata Budi dikutip dari harian Kompas yang terbit 7 Februari 2016.

Baca: Yeslin Wang Siap Jalani Imlek Tanpa Suami

Baca: Amankan Perayaan Imlek, Kapolri Bentuk Satgas di Seluruh Polda di Indonesia

Rencana perayaan Imlek dan Cap Go Meh itu tentu saja terhambat Inpres Nomor 14/1967 yang saat itu masih berlaku. Namun demikian, secara spontan, Gus Dur berkata, "Gampang, Inpres saya cabut."

Pencabutan dilakukan melalui penerbitan Keppres Nomor 6/2000. Keppres itu membuat keturunan etnis Tionghoa bisa merayakan Imlek secara terbuka.

Kemeriahan terlihat di perayaan Imlek, yang saat itu tahun Naga Emas.

Ornamen naga, lampion, dan angpau ikut terlihat terpasang indah di sejumlah pertokoan. Atraksi barongsai menjadikan perayaan Imlek semakin ceria.

Akan tetapi, perayaan Imlek sebagai hari nasional baru dilakukan dua tahun sesudahnya, pada era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Warga keturunan Tionghoa melakukan sembahyang di Vihara Amurva Bhumi, kawasan Karet Semanggi, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020) malam. Ibadah tersebut dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2571. Tribunnews/Herudin
Warga keturunan Tionghoa melakukan sembahyang di Vihara Amurva Bhumi, kawasan Karet Semanggi, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020) malam. Ibadah tersebut dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2571. Tribunnews/Herudin (Tribunnews/Herudin)
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved