Kamis, 7 Mei 2026

Imlek 2020

Imlek Bagian dari Mozaik Indah Bernama Indonesia

Gus Dur ingin semua masyarakat Indonesia bisa merayakan kebudayaannya masing-masing sebagai bagian dari mozaik indah bernama Indonesia.

Tayang:
Tribunnews/Herudin
Warga keturunan Tionghoa melakukan sembahyang di Vihara Amurva Bhumi, kawasan Karet Semanggi, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020) malam. Ibadah tersebut dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2571. Tribunnews/Herudin 

Megawati menyampaikan penetapan tersebut saat menghadiri Peringatan Nasional Tahun Baru Imlek 2553 pada 17 Februari 2002. Penetapan Imlek sebagai hari libur nasional baru dilakukan pada 2003.

Dalam Artikel Kompas berjudul "Presiden Tetapkan Imlek Hari Nasional", Megawati menyampaikan penetapan tersebut saat menghadiri Peringatan Nasional Tahun Baru Imlek 2553 di Hall A Pekan Raya Jakarta, Kemayoran.

Dalam pidato di luar teks, Presiden Megawati mengatakan dirinya menangkap aspirasi yang berkembang di masyarakat Khonghucu.

Baca: Yenny Wahid Ungkap Spirit Gus Dur Perjuangkan Imlek Dapat Dirayakan Bebas

Baca: Inilah Arti Gong Xi Fa Cai yang Benar, Bukan Selamat Tahun Baru Imlek

"Tadi saya tahu panitia dan pengurus memberikan suatu sindiran supaya Tahun Baru Imlek dijadikan hari nasional. Demi kebersamaan kita sebagai warga dan bangsa, dengan ini saya nyatakan Tahun Baru Imlek sebagai hari nasional," kata Megawati saat itu.

Meski demikian, bukan berarti diskriminasi terhadap keturunan etnis Tionghoa hilang. Pada 2004, Gus Dur mengakui masih ada ribuan peraturan diskriminatif yang belum dicabut.

"Masih ada 4.126 peraturan yang belum dicabut. Misalnya, soal SBKRI. Itu kan sesuatu yang tidak ada gunanya," kata Gus Dur dikutip dari harian Kompas yang terbit pada 11 Maret 2004.

"Di mana-mana di dunia, kalau orang lahir ya yang dipakai akta kelahiran, orang menikah ya surat kawin, tidak ada surat bukti kewarganegaraan. Karena itu, saya mengimbau kawan-kawan dari etnis Tionghoa agar berani membela haknya," ujar dia.

Gus Dur berharap semua elemen bangsa memberikan kesempatan kepada masyarakat keturunan Tionghoa dalam kehidupan bermasyarakat.

"Mereka adalah orang Indonesia, tidak boleh dikucilkan hanya diberi satu tempat. Kalau ada yang mencerca mereka tidak aktif di masyarakat, itu karena tidak diberi kesempatan," ucap Gus Dur.

"Cara terbaik, bangsa kita harus membuka semua pintu kehidupan bagi bangsa Tionghoa sehingga mereka bisa dituntut sepenuhnya menjadi bangsa Indonesia," ujar tokoh Nahdlatul Ulama itu.

Bapak Tionghoa Indonesia

Atas kebijakan dan pemikirannya yang terbuka, Gus Dur mendapat gelar sebagai "Bapak Tionghoa Indonesia".

Bagi orang-orang keturunan etnis Tionghoa, Gus Dur dinilai telah menghapus kekangan, tekanan, dan prasangka. Gus Dur juga dinilai telah berjasa menjadikan semua warga negara menjadi setara.

Depan Wihara Dharma Bakti, Jalan Petak Sembilan, Jakarta Barat, Jumat (23/1/2020).
Depan Wihara Dharma Bakti, Jalan Petak Sembilan, Jakarta Barat, Jumat (23/1/2020). (KOMPAS. COM/CYNTHIA LOVA)

Dalam artikel Kompas.com berjudul "Ini Alasan Gus Dur Diberi Gelar Bapak Tionghoa Indonesia" yang terbit pada 23 Agustus 2014, dijelaskan penghormatan terhadap Gus Dur diberikan dalam bentuk Sinci papan penghargaan yang akan dipasang di klenteng tersebut. Apa alasan Gus Dur dianugerahi penghargaan tersebut?

Dalam acara bincang-bincang "Makna Peletakan Sinci Gus Dur" di Gedung Rasa Dharma Semarang, Sabtu (23/8/2014) malam, Sugiri Kustejo, akademisi sekaligus tokoh Tionghoa, memberikan alasan mengapa Gus Dur layak diberikan Sinci.

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved