Nadiem Bantah Buat Pendidikan Indonesia Menjadi 'Antek Industri'

Nadiem membantah bahwa kebijakan tersebut membawa dunia pendidikan menjadi antek dari industri.

Kemendikbud
Mendikbud Nadiem Makarim 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menjelaskan tentang program Merdeka Belajar yang dicanangkan olehnya untuk pendidikan tinggi kepada Komisi X DPR RI.

Dalam program Merdeka Belajar terdapat kebijakan yang memperbolehkan kampus untuk membuka prodi baru asalkan bekerjasama dengan lembaga profit dan nonprofit.

Nadiem membantah bahwa kebijakan tersebut membawa dunia pendidikan menjadi antek dari industri.

Baca: Komisi X DPR Minta Penjelasan Nadiem Soal Program Merdeka Belajar

Baca: Nadiem Makarim Bebaskan Mahasiswa Ambil Kegiatan di Luar Prodi hingga 3 Semester: Ini Bukan Paksaan

Baca: Deretan Foto Hotman Paris Rayakan Imlek Bersama Konglomerat, Ada Nadiem Makarim Hingga Ahok

"Jadi banyak yang kemarin media headlinenya adalah mengarah kepada komersialisasi pendidikan atau ini menjadi pendidikan kita seolah-olah antek industri, nah ini semua saya jelaskan bahwa itu statemen yang luar biasa salahnya," ujar Nadiem di ruang rapat Komisi X, Kompleks Parlemen DPR/MPR, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2020).

Nadiem mengungkapkan bahwa pihaknya juga mewajibkan kerjasama dengan lembaga nonprofit. Menurutnya, justru lebih banyak kesempatan yang bisa didapatkan jika bekerjasama dengan lembaga nonprofit.

Menurut Nadiem, kerjasama tersebut diperbolehkan asalkan memberikan manfaat kepada kampus.

"Malah lebih banyak kesempatan untuk prodi kerjasama dengan nonprofit karena jumlah universitas top dunia nonprofit," ucap Nadiem.

Nadiem mengatakan bahwa kualitas kerjasama tersebut dapat dilihat jika dapat menghasilkan kolaborasi dalam bidang kurikulum, magang, dan rekrutmen.

Seperti diketahui, Nadiem mengeluarkan empat kebijakan di lingkup pendidikan tinggi bertajuk 'Kampus Merdeka'.

Kebijakan ini merupakan lanjutan dari konsep Merdeka Belajar yang sebelumnya diterapkan untuk pendidikan dasar dan menengah.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved