Kamis, 28 Mei 2026

Hasan Gayo Ikut Grup Radikal, Pimpin Pengambilalihan Aset Kereta Api dari Tangan Jepang

Daud Gayo, sebelumnya pernah menulis buku tentang ulama asal Gayo, yang berkiprah di Sumatera Utara, Tgk A. Latief Rousdy pada 2011

Tayang:
Editor: Eko Sutriyanto
Fikar W.Eda/SERAMBI INDONESIA
Muhammad Daud Gayo bersama Diyah Erti Idawati, Istri Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Daud Gayo memperkenalkan buku yang ditulisnya, kisah Hasan Gayo. 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Fikar W.Eda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Atas nama Angkatan Pemuda Indonesia (API), pada 3 September 1945, Muhammad Hasan Gayo, memimpin pengambil alihan aset dan manjemen perusahaan Kereta Api di Jakarta dan Bengkel Besarnya di Manggarai.

Tentara Jepang yang menjaga Perusahaan Kereta Api menyerah tanpa perlawanan dan semua gerbong ditempeli "Milik RI."

Dampak dari pengambilalihan perusahaan kereta api di Jakarta, akhirnya seluruh stasiun kereta api di Pulau Jawa diambil alih oleh pejuang rakyat Indonesia.

Kisah heroik inilah yang diungkapkan dalam buku "Keterlibatan Haji Muhammad Hasan Gayo, Pejuang Nasional Dataran Tinggi Gayo, dalam Gerakan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia 1923-1993," ditulis oleh Drs. Muhammad Daud Gayo, mantan staf pribadi Menteri Luar Negeri Adam Malik. Buku ini diterbitkan Bandar Publishing Banda Aceh, 2018, tebal 268 halaman.

Dikisahkan dalam buku tersebut, pengambil alihan aset kereta api mula-mula dilakukan di Stasiun Kota Bios Jakarta.

Esoknya, pengambilalihan dilakukan di Stasiun Kereta Api Kota dan siangnya Stasiun Kereta Api Manggarai, berikut bengkel besarnya. Sejak itulah, pengambil alihan seluruh aset kereta api dilakukan di seluruh Jawa.

Baca: Pemuda Aceh yang Kena Stroke di Malaysia akan Pulang Besok

Baca: Cerita Polisi di Aceh Nikahi Adik Ipar

Baca: Pasien yang Meninggal Negatif Covid-19, CianjurTetap Siaga I

Pada masa itu, Kereta Api rupanya punya peralatan mesin cetak yang dioperasikan di lantai bawah Stasiun Kota.

Hasan Gayo kemudian diserahi tugas mengawasi percetakan Kereta Api di Stasiun Kota dan menerbitkan majalah "Suara Kereta Api" dimana Hasan Gayo sendiri sebagai pemimpin redaksinya. Ia juga dipercaya menjadi pemimpin Pemuda Kereta Api.

Belakangan, mesin cetak milik kereta api itu diambil oleh BM Diah, yang kemudian digunakan untuk menerbitkan harian Merdeka. Sebagai imbalannya, semua pamflet Komite van Actie --organisasi pergerakan dibentuk oleh Grup Pemuda Radikal setelah Proklamasi, tempat Hasan Gayo bergabung ---dicetakkan oleh BM Diah.

Buku "Keterlibatan Haji Muhammad Hasan Gayo, Pejuang Nasional Dataran Tinggi Gayo, dalam Gerakan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia 1923-1993," ini akan dibedah secara khusus di Perpustakaan Nasional pada 15 Maret 2002 mendatang. Bedah buku diselenggarakan oleh Ikatan Musara Gayo Jakarta dan Taman Iskandar Muda Jakarta.

Siapakah Muhammad Hasan Gayo? Ia lahir di Kampung Lukup Kecamatan Pegasing pada 1923.

Menjalani pendidikan sekolah dasar Belanda di Takengon, dan lulus Sekolah Normal Islam di Bireuen. Sekolah ini didirikan oleh Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA).

Berangkat ke Jakarta melalui jalan darat pada Nopember 1942, atau tujuh bulan setelah Jepang menjejakkan kaki di Aceh. Hasan Gayo mendaftar di Perguruan Tinggi Islam Jakarta, pimpinan Prof. Kahar Muzakkir.

Di Jakarta, Hasan Gayo bergabung dengan mahasiswa dan pemuda pergerakan anti penjajah Jepang. Grup ini belakangan diberinama "Grup Pemuda Radikal" pimpinan Chaerul Saleh, bermarkas di Menteng 31 atau Gedung Juang 45 sekarang.

Baca: Cara Sederhana Menangkal Virus Corona Menggunakan Ramuan Empon-empon Khas Nusantara

Baca: Bea Cukai Berikan Izin Kawasan Berikat ke Perusahaan Sepatu Converse di Temanggung

Baca: Ahli: Kasus Virus Corona di Hokkaido Jepang Diperkirakan 10 Kali Lipat dari Jumlah Resmi

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved