Breaking News:

Konsistensi Partai Golkar Dukung Pemerintah Lambungkan Elektabilitasnya

Elektabilitas partai yang dipimpin oleh Airlangga Hartarto ini sebesar 15,2 persen dan hanya kalah dari PDIP sebesar 17,8 persen

Tribunnews.com/ Chaerul Umam
DPP Partai Golkar menggelar acara Tasyakuran dan Pemotongan Tumpeng dalam rangka HUT ke-56 Partai Golkar, Rabu (21/10/2020) malam. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hasil survey yang digelar Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) menempatkan PDIP dan Partai Golkar berada di urutan teratas jika Pemilu digelar pada saat ini. Survey tersebut dilakukan pada 20 – 27 Desember 2020 dengan jumlah responden 1.225 yang tersebar proporsional di 34 provinsi di Indonesia.

Partai Golkar yang dalam Pemilu 2019 menempati urutan kedua perolehan kursi terbanyak di DPR, dalam survey itu tetap mempertahankan posisinya.

Elektabilitas partai yang dipimpin oleh Airlangga Hartarto ini sebesar 15,2 persen dan hanya kalah dari PDIP sebesar 17,8 persen.

Konsistensi Partai Golkar adalah salah satu  penyebabnya.

Menurut pengamat politik dari Universitas Pelita Harapan, Emrus Sihombing, PDIP dan Golkar bisa di posisi pertama dan kedua karena dua partai ini konsisten.

"Menurut analisa kualitatif saya, ini ada dua faktor yang bisa mempengaruhinya. Pertama, intinya bagaimana kinerja dari partai yang dicerminkan dari para kadernya bekerja. Kedua, adalah konsistensi," ujar Emrus Sihombing.

Baca juga: Politisi Golkar: Gotong Royong Harusnya Jadi Solusi Masalah Bangsa saat Ini

Golkar selama ini dinilai telah secara konsisten menjadi partai pendukung pemerintah yang setia.

Sejak menjadi pendukung pemerintah Presiden Joko Widodo pada 2016, Golkar terus berada di lingkaran pemerintah.

Bahkan menjadi salah satu pengusung utama pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.

Selain itu juga faktor kinerja dari kader-kader mereka. Emrus menyatakan faktor kinerja kader partai yang dimaksud yakni mereka para kader yang menjadi legislatif, eksekutif dan kader partai yang tidak berada di posisi keduanya.

Sejauh mana pengaruh para kader ini bisa mendongkrak elektabilitas partai.

"Kinerjanya para kader-kadernya ini dipantau masyarakat. Oleh karena itu, kinerja partai dilihat masyarakat bagaimana mereka membuat keputusan-keputusan legislatif di DPR dan DPRD dan eksekutif, maupun di luar dua posisi itu," tuturnya.

Ini tentunya berbeda dengan Partai Gerindra yang dalam survey LKPI anjlok di posisi ketujuh dengan elektablitas hanya 6,6 persen saja.

Baca juga: Legislator Golkar: Situasi Pandemi Mengharuskan Kita untuk Terapkan Pola Hidup 3M

Gerindra berada di bawah Partai Demokrat, PKB, Partai Nasdem dan PKS.

Emrus meyakini Gerindra memiliki persoalan konsisten.

Partai yang diketuai Prabowo Subianto itu dinilai masyarakat cenderung tidak konsisten karena merapat ke koalisi pemerintahan Jokowi-Maruf.

Padahal, pada Pilpres 2019 lalu, Gerindra adalah rival dari PDI Perjuangan yang menjadi pengusung Jokowi, termasuk Partai Golkar.

"PDIP pertama dan Golkar urutan kedua, karena mereka konsisten.

Konsisten dalam mendukung pemerintah. PDIP di masa SBY itu jadi oposisi dua periode.

Konsisten. Sementara Gerindra kita lihat kemarin, mereka ini berada di persaingan di Pilpres 2014 maupun 2019. Sekarang mereka sudah ada di kabinet dua orang (menteri)," ucap Emrus.

Hasil Survey LKPI

PDI Perjuangan (17,8 persen)

Partai Golkar (15,2 persen)

Partai Demokrat (10,8 persen)

PKB (8,8 persen)

Partai Nasdem (8,1 persen)

PKS (6,9 persen)

Partai Gerindra (6,6 persen)

PSI (4,2 persen)

PAN (3,1 persen)

PPP (2,9 persen)

Partai Hanura (1,6 persen)

Parpol lain di bawah 0,5 persen.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved