Bom di Makassar
Nasir Abbas, Eks Tokoh Jamaah Islamiyah, Aksi Terorisme Itu Nyata
Nasir Abbas, sosok senior JI menceritakan kilas balik rangkaian aksi teror di Indonesia. Diawali bom malam Natal 2000.
Mereka ingin dapatkan janji surga sesuai keyakinan mereka, Mereka inigin bagikan semangat itu ke teman-teman sekelompoknya.
“Ingat, Minggu lalu itu nisfu syaban, jadi pahalanya dianggap besar melakukan jihad di hari itu. Ini mirip Noordin dan Azhari yang kerap mengincar aksi di hari Ramadan. Karena itu keyakinan,” paparnya.
Psikologi Keterlibatan Perempuan di Aksi Bom
Menurut peneliti forensik psikologi DSPAR, Reno Fitria,pelibatan perempuan dalam aksi-aksi teror ini ada kaitan dengan soal keyakinan dan juga latar belakang masa lalu mereka.
“Saya sempat tanya ke mereka apa yang membawa mereka beraksi berpasangan? Isu psikologisnya, terutama perempuan, ada latar belakang mereka mencari figur laki-laki karena pengaruh kehilangan sosok ayah di masa kecilnya,” ujar Reno.
“Sehingga dia cari sosok laki-laki ideal di matanya. Agamanya cukup, punya sikap tegas, lalu dia ditarik mencari pasangan di wilayah kelompok mereka,” imbuhnya.
Kedua,menurut Reno, perempuan mudah ditarik karena ada kawan terdekat sudah bergabung lebih dulu ke kelompok itu.
Lalu sengaja cari pasangan di wilayah organisasinya. Karena perempuan itu merasa ibadah sama-sama suami itu pahala besar. Istri lalu menurut karena mengikuti perintah suami.
“Mereka merasa akan dapat pintu surga dari manapun,. Ini yang membuat mereka tidak ragu. Saya beribadah ke suami saja, dan dalam Islam ada dalil ini. Lalu tindakanya diarahkan ke tindakan yang merugikan banyak orang,” lanjut Reno.
Terkait bom Makssar, Feno Fitria yakin radikalisasi terjadi sebelum mereka bertemu. Sudah ada bibit yang tertanam, dan mereka cari cara berjihad.
Sudah ssatu manhaj jadi mereka tak ragu lalu. Banyak yang masuk organisasi ini perempuan masih single. Laki-laki cari pasangan yang mau berjihad. Gayung pun bersambut.
Dari sisi Nasir Abbas, keterlibatan perempuan dalam aksi pengeboman ini termasuk perkembangan baru di Indonesia.
Di JI dulu, peran perempuan dibatasi. “Inilah dia penyimpangan yang berkembang di kalangan mereka. Mereka meyakini kalau lelaki bisa berbuat kenapa wanita tidak bisa berbuat. Kalau lelaki berperang, kenapa wanita tidak bisa berperang,” katanya.
“Di JI dulu ada wanita, tapi dibatasi perannya. Tak pernah ada wanita jadi eksekutor. Di JAD, tidak dibatasi siapa saja bisa terlibat operasi. Kita lihat lah hasilnya. Akan ada lagi,” katanya memperingatkan.
Sekali lagi, Nasir Abbas memperingatkan ke masyarakat, di zaman sekarang saat informasi tak terbatas. Kelompok teroris ini memanfaatkannya untuk menyebar kebencian, hasutan, fitnah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/rumah-tersangka-bom-bunuh-diri-makassar-digeledah-polisi_20210329_215603.jpg)