Breaking News:

Sistem Deteksi Dini Buoy BPPT Tetap Siaga Pasca-Gempa yang Terjadi di Bayah Banten

Pemantauan kondisi pascagempa ini dilakukan melalui sistem deteksi dini tsunami berbasis Buoy yang dipasang di Perairan Selatan Selat Sunda (Buoy SUN)

Dok.BPPT
Tampilan website InaTOC yang memuat data Buoy BPPT di Selatan Selat Sunda (Buoy SUN), Selatan Malang (Buoy MLG) dan Selatan Bali (DPS). 

Pemasangan dan operasionalisasi Buoy tsunami Selatan Bali ini diklaim sebagai keberhasilan kali ke-3 bagi BPPT dalam menerapkan sistem pendeteksi dini tsunami berbasis Buoy.

Sebelumnya, lembaga tersebut telah memasang Buoy di Perairan Selatan Malang pada 8 Maret 2021 dan di Selatan Selat Sunda pada 21 Maret 2021.

Kepala BPPT Hammam Riza menyampaikan bahwa pihaknya terus berkomitmen untuk merealisasikan rencana dalam melakukan penyebaran (deploy) sistem deteksi dini tsunami Buoy pada 24 lokasi nusantara.

Rincian penempatannya adalah 11 titik perairan Indonesia direalisasikan sepanjang 2021 dan 13 lokasi lainnya akan dilakukan hingga 2024 mendatang.

"Keberhasilan pemasangan dan operasionalisasi Buoy DPS menunjukkan keseriusan dan komitmen BPPT dalam menyediakan sistem pemantauan tinggi muka air laut untuk tsunami di 11 lokasi perairan Indonesia pada 2021 dan sebanyak 13 lokasi hingga tahun 2024," jelas Hammam, dalam keterangan resminya, Selasa (13/4/2021).

Program deploy Buoy yang telah berjalan sejak 2020 ini, kata dia, merupakan hal yang harus dilakukan dalam upaya membangun sistem mitigasi bencana terintegrasi di Indonesia.

Nantinya, data dari Buoy ini akan menjadi bagian dari InaTEWS, sistem ini akan melakukan konfirmasi melalui verifikasi informasi peristiwa tsunami kepada masyarakat yang sebelumnya disampaikan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Perlu diketahui, Buoy SUN, Buoy MLG dan Buoy DPS merupakan inovasi yang dikembangkan BPPT dan diproduksi PT PAL dalam proses hilirisasi teknologinya.

Hammam pun optimis, beroperasinya Buoy DPS ini dapat mendorong terwujudnya ekosistem industri nasional di sektor kebencanaan, khususnya dalam upaya mendukung kemandirian teknologi tanah air.

Mantan Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSA) BPPT ini pun berharap sistem ini dapat meminimalisir korban, jika tsunami terjadi.

"Ketiga Buoy yang telah beroperasi ini (diharapkan) dapat memberikan informasi bencana tsunami yang lebih cepat, sehingga masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk menyelamatkan diri," papar Hammam.

Terkait Buoy DPS di Perairan Selatan Bali, pemasangannya dilakukan menggunakan wahana Kapal Riset (KR) Baruna Jaya III yang dikelola Balai Teknologi Survei Kelautan (Balai Teksurla) BPPT.

Pemasangan Buoy ini dilakukan setelah dua hari terjadinya peristiwa gempa bumi di Samudera Hindia, tepatnya wilayah Selatan Malang pada 10 April lalu.

Kapal riset ini berhasil menempatkan Buoy DPS dengan ocean bottom unit (OBU) pada kedalaman 4282,5 m, posisi 115o12’37.52”E, 9o44’22.38”S serta pada jarak 112 km dari Kota Denpasar, Bali.

Sebelumnya Hammam menyampaikan bahwa pada tahun ini, rencananya BPPT akan melakukan deploy 11 unit Buoy yang diproduksi PT PAL sebagai bagian dari penguatan ekosistem inovasi.

Seluruh Buoy ini akan dipasang di lokasi perairan Indonesia, meliputi Selat Sunda, Gunung Anak Krakatau (GAK), Perairan Selatan Bali, Perairan Gunung Sitoli, Perairan Sebelah Selatan Cilacap, Perairan Bengkulu, Perairan Utara Papua dan Utara Sorong, Perairan Sangir Talaud, Maluku Utara, termasuk di Selatan Perairan Kabupaten Malang.

Alat deteksi tsunami Buoy ini pun nantinya akan dilengkapi pula dengan Kabel Bawah Laut atau Cable Based Tsunameter (CBT) yang ditempatkan di Labuan Bajo dan Rokatenda.

"Pada tahun 2021 ini, akan ditempatkan sebanyak 11 unit Buoy secara keseluruhan serta akan dilengkapi pula dengan 2 lokasi kabel bawah laut di Labuan Bajo dan Rokatenda. BPPT terus berburu inovasi untuk menerapkan teknologi dalam mitigasi bencana tsunami," kata Hammam.

Lokasi penempatan 11 Buoy ini merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Penguatan Sistem Informasi Peringatan Dini Gempa dan Tsunami (InaTEWS) BPPT Tahun 2020-2024 sesuai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 93 Tahun 2019.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved