PROFIL AKP Stepanus Robin, Penyidik KPK juga Tersangka Kasus Suap, Miliki Harta Rp 461 Juta
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang juga merupakan dari kalangan kepolisian, AKP Stepanus Robin Pattuju, menjadi tersangka kasus suap.
Penulis:
garudea prabawati
Editor:
Pravitri Retno W
TRIBUNNEWS.COM - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang juga merupakan dari kalangan kepolisian, AKP Stepanus Robin Pattuju, menjadi tersangka kasus suap.
Stepanus Robin diduga menerima suap dan gratifikasi, memeras Wali Kota Tanjungbalai HM Syahrial senilai Rp 1,5 Miliar.
Hal ini dalam penanganan kasus Wali Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara tahun 2020-2021.
Diduga Stepanus Robin sejak Oktober 2020 hingga April 2021, menerima uang dari pihak lain melalui transfer rekening bank atas nama Riefka Amalia sebesar Rp 438 juta.
Ia pun disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.
Lantas siapakah sosok AKP Stepanus Robin Pattuju?

Pekerjaan terakhirnya bergabung dalam Deputi Bidang Penindakan KPK dengan jabatan Spesialis penyidik muda.
Stepanus Robin mulai bekerja bersama KPK sejak 2019.
Dirinya merupakan lulusan Akademisi Kepolisian (Akpol) angkatan 2009, bahkan dikenal berprestasi lantaran meraih ranking 5 saat pendidikan.
Baca juga: KPK Kantongi Nama Para Pemberi Rp 438 Juta ke Penyidik Stepanus Robin
Pada 2017, Stepanus pernah menjabat sebagai Kapolsek Gemolong, Sragen, Jawa Tengah.
Dikutip dari Tribrata News, saat menjabat sebagai Kapolsek Gemolong, Stepanus Robin pernah memimpin razia gabungan antara Polsek Gemolong, Polres Sragen, Polda Jawa Tengah.
Saat itu dalam rangka pengamanan Pilgub DKI Tahap II di Jakarta.
Sementara itu AKP Stepanus Robin juga pernah menjabat sebagai Kepala Bagian Operasional Polres Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Ia bertugas di Halmahera Selatan selama empat tahun, dari April 2015-Agustus 2019.
Baca juga: Penyidik Terima Suap, Eks KPK Minta Pimpinan Jilid V Mundur
Bukan karena prestasinya, tetapi karena skandal dari perwira yang digantikannya, diberitakan Tribunnews sebelumya.