Kisah Unik
Ani Yudhyono Berteriak Histeris dan Nyaris Pingsan di Kamar Mayat
Ani Yudhoyono, istri Susilo Bambang Yudhoyono, punya pengalaman dicengkram tangan mayat. Ia menjerit dan nyaris pingsan. Ini kisah uniknya.
“Sekarang bedakan mana mayat yang paling baru.”
Menurut logika Ani, mayat paling baru pasti terasa lebih hangat.
Untuk memastikannya Ani menjulurkan tangan ke arah mayat yang berdarah-darah.
“Ketika ujung jemariku menyentuh tubuh mayat itu, tiba-tiba sebuah tangan menyergap lenganku dan mencengkram keras sekali. Mayat itu hidup,” kata Ani Yudhoyono.
Tidur bersama tengkorak
Baca juga: Pejabat Intel Yoga Sugomo Dilaporkan Kehilangan Dokumen di Hotel, Padahal di Dalam Pesawat
Seketika terdengar jeritan yang sangat keras. Begitu keras jeritan Ani sehingga sejumlah mahasiswa masuk ke kamar mayat dan memegangi tubuhnya agar tidak terjatuh. Ani nyaris pingsan di tempat.
Karena dianggap gagal mengikuti uji nyali di kamar mayat, Ani diadili para senior. Muncul ancaman, mahasiswa yang dinilai gagal menjalani ujian di kamar mayat harus mengulang kembali.
Namun ternyata semua peserta mapram diizinkan pulang tanpa harus mengulang.
“Tapi aku masih ingat, sepanjang perjalanan pulang dengkulku sangat lemas. Benar-benar hari yang merontokkan nyali,” ujar ibu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tersebut.
Ani Yudhoyono mengakui kuliah di fakultas kedokteran tidak mudah. Untuk menghafal karakteristik kepala manusia, ia pernah meminjam tengkorak sungguhan dari laboratorium dan membawanya ke rumah.
Waktu itu kebetulan sang ayah sedang di rumah dan masuk ke kamar Ani. Melihat Ani berbaring di kasur bersama tengkorak, Sarwo Edhie langsung memekik kaget.
“Ani, apa itu,” tanya Sarwo Edhie.
“Tengkorak Pi (papi), namanya juga mahasiswi kedokteran,” jawab Ani. Sang ayah kemudian meninggalkan kamar itu sambal tersenyum kecut.
Ani hanya mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran UKI hingga semester VI karena harus mengikuti penugasan ayahnya, Sarwo Edhie Wibowo, sebagai Duta Besar (Dubes) RI di Korea Selatan, pada 1974. Awalnya Ani berniat meneruskan kuliah di Seoul, namun ternyata di Negeri Gingseng tersebut pada saat itu tidak ada perguruan tinggi yang menggelar perkuliahan dalam Bahasa Inggris. Semuanya menggunakan Bahasa Korea yang tidak dipahami Ani.
“Kalau Bahasa Inggris, walau saat itu aku belum jago-jago amat, tapi masih bisa diraba. Sedangkan Bahasa Korea yang menggunakan huruf kanji, satu kalimat pun aku belum bisa,” ujar Ani.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/potret-lawas-ani-yudhoyono-dari-masa-ke-masa.jpg)