Sabtu, 30 Agustus 2025

Duta Besar Indonesia

Fadjroel Tidak Boleh Mendahului Presiden, Semua Pertanyaan Tidak Boleh Disambar 

Jadi Penyambung Lidah Presiden, Fadjroel tidak boleh mendahului Presiden, semua pertanyaan tidak boleh disambar.  

Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Juru Bicara Kepresidenan - Fadjroel Rachman 

Jadi sebenarnya ada lima. Orang menyangka juru bicara itu hanya frontlining. Padahal frontlining cuma 1/5 dari kerjaan jubir. Tidak mungkin menciptakan trust kepada presiden. Karena itu menyangkut semua kegiatan presiden, kegiatan kementerian atau Kabinet Indonesia Maju. Kami menyebutnya FACTS

Krusial poin yang biasanya terjadi ketika menyampaikan lima konteks?

Frontlining paling berat. Sebelum covid kami bisa langsung ketemu wartawan di pilar istana. Sudah tidak susah lagi. Ketika kita keluar lingkungan Istana langsung bertemu saja sama teman-teman. Di masa pandemi itu tidak ada lagi. Terpaksa harus melalui webinar.

Kadang-kadang melalui WhatsApp. Saking banyaknya, kadang-kadang saya jawabnya beberapa kalimat dan mengarahkan ke kementerian, lembaga. Kalau analizing kan bisa mengamati. Kami sering dibantu Dirjen Aptika. Dibantu mesin-mesin tertentu, memberitahu apa yang menjadi isu di media.

Apa yang paling membuat Anda sakit kepala selama menjabat staf khusus presiden?

Praktis berjalan biasa. Tidak ada yang terlalu membuat kami kemudian kesulitan. Cuma memang kadang waktu saja untuk menyampaikan sesuatu. Jadi kalau kita mengikuti. Kami kebetulan membuatnya suatu organisasi dengan flowchart yang sudah jelas.

Jadi betul-betul semuanya berjalan tidak mendadak. Itu yang penting. Jadi semuanya sebenarnya biasa saja. Walau ada kesulitan di sana-sini karena ada keharusan kecepatan yang harus dikerjakan. Tapi memang kalau harus menghadiri talkshow itu acaranya Pak Karni Ilyas. Karena sering kali saya sendirian, sementara tamu yang melihat, saya mewakili presiden, istana, jadi dikeroyok.

Sebagai aktivis saya sudah terbiasa untuk tenang, sabar, objektif, tetap menghadirkan pikiran, dan senyum. Saya senyum kadang karena itu jalan terbaik kalau diserang orang. Tapi kebiasaan baru jadi jubir, yang berbeda dari aktivis dan pengamat politik.

Karena tidak boleh bicara sebelum presiden bicara. Di awal memang agak membuat aduh. Karena sebelumnya jadi aktivis dan pengamat, semua pertanyaan disambar saja. Kalau sekarang tidak boleh. Jadi kalau tidak disampaikan presiden tidak boleh. Saya hanya boleh menanggapi yang pasti. Apa yang disampaikan dan dilakukan.

Yang bikin sakit kepala adalah, tiba-tiba wartawan tanya. Mas jam berapa ini pelantikan, reshuffle bagaimana. Kemudian jam berapa. Saya sebenarnya tahu karena saya di lingkungan Istana. Tapi kan saya tidak boleh bicara bahwa reshuffle itu akan dilakukan terhadap siapa dan pukul berapa.

Baca juga: Kata KSP Soal Kursi Jubir Presiden yang Ditinggalkan Fadjroel

Karena hal tersebut menjadi pasti kalau presiden sudah mengumumkan dan sudah disumpah. Sebenarnya saya tahu tapi SOP di istana tidak boleh. Tidak boleh sama sekali mendahului presiden. Itu kadang-kadang yang bikin sakit kepala terutama kalau isu reshuffle. Yang terakhir ini yang paling berat. Berminggu-minggu.

Kalau wacana tiga periode, itu sejak 21 Desember 2019. Sampai hari ini diulang terus, diulang terus. Tapi lucu juga teman-teman wartawan, padahal jawaban saya itu aja tapi diambil terus. Paling yang diubah cuma tanggal dan jam.

Anda dengan presiden pernah curhat dalam konteks pribadi?

Lebih dalam urusan pekerjaan saja. Kemudian kalau pun beliau ajak abis jalan. Saya senang kalau jalan ke luar kota karena suasananya lebih santai. Kalau di Istana saya harus tahu diri kursinya ditempatkan di mana. Kalau berdiri itu kalau ada presiden saya di belakangnya. Tapi kalau ada wakil presiden saya di belakangnya lagi. Kalau ada menteri saya di belakangnya lagi.

Protokol itu tidak pernah saya pahami sebelumnya. Waktu komisaris ada protokol tapi saya langgar. Kalau di Istana kan tidak boleh. Kalau mendampingi presiden ke luar kota itu asik. Makan diajak satu meja, diskusi, ngobrol, kadang-kadang kalau resmi kita tidak berani makanan dekat presiden.

Kalau beliau ajak ngobrol di warung, restoran, saya izin pak mau ngambil ini. Jadi lebih enak kalau jalan ke luar kota. Karena beliau senang makan di warung, restoran milik publik, kemudian orang berkumpul. (tribun network/denis destryawan)

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan