Momen Hasto Teteskan Air Mata Ucapkan Terima Kasih ke Megawati Usai Lulus Promosi Doktor

Hasto pun terisak saat mengucapkan terima kasih kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri

Tribunnews/Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto tak kuasa menahan tangis usai dinyatakan lulus dalam sidang promosi doktor di Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Senin (6/6/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, BOGOR - Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto tak kuasa menahan tangis usai dinyatakan lulus dalam sidang promosi doktor di Universitas Pertahanan (Unhan) RI, Senin (6/6/2022).

Hasto pun terisak saat mengucapkan terima kasih kepada Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang juga menjadi salah satu pengujinya.

"Penelitian ini kami persembahkan bagi Ibu Megawati Soekarnoputri. Sehingga mimpi Ibu, Bung Karno tidak hanya diterima apa adanya tetapi Bung Karno dengan pemikirannya akan selalu hidup dan menggerakkan Indonesia untuk menjadi pemimpin diantara bangsa-bangsa di dunia. Terima kasih," kata Hasto sambil menahan haru.

Usai mengucapkan itu, air matanya tampak mengalir. Ia pun membuka masker dan kacamata. Masker digunakannya mengusap air mata dan hidungnya.

Baca juga: Jokowi: Studi Geopolitik Bung Karno yang Dilakukan Hasto Bisa Dijadikan Pijakan Para Pemimpin Bangsa

Melihat momen itu, puterinya yang biasa dipanggil Mbak Astri, mendekati podium dan memberikan tisu.

Diketahui, Hasto dinyatakan lulus dengan predikat Summa Cum Laude, setelah sidang terbuka disertasinya yang berjudul 'Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara'.

Sebelum momen itu terjadi, Hasto menceritakan suatu hal penting yang dialaminya bersama Megawati.

"Saya teringat tahun 2008 saat itu di Buleleng. Di pinggir pantai, suasananya enak, kontemplatif, saya bertanya kepada Ibu Mega. Apa mimpi Ibu Mega? Ini belum pernah saya ceritakan. Bu Mega diam sejenak lalu mengatakan kepada saya 'Mimpi saya adalah agar Bung Karno ini diterima sewajarnya di republik ini'," ungkap Hasto.

Baca juga: Turut Disaksikan Megawati, Hasto Kristiyanto Raih Gelar Doktor Predikat Summa Cum Laude

Menurutnya pernyataan itu luar biasa, apalagi dari pengalaman hidup Megawati bagaikan falsafah Jawa cokro manggilingan.

"Jadi anak presiden, tinggal di Istana kemudian akibat peristiwa politik yang tidak jelas kebenarannya sampai sekarang menjadi rakyat biasa, tidak membawa apa-apa. Bahkan Bung Karno tidak tahu berapa gajinya, dimana dana pensiunnya tidak tahu. Kemudian kita tahu apa yang terjadi dengan Bung Karno," kata Hasto.

"Pernah suatu ketika, tanpa proses hukum yang jelas Ibu Mega menengok Bung Karno membawa makanan. Ransum makanan yang mau dikasih kepada proklamator yang berjuang sejak usia 16 tahun keluar masuk penjara dengan penuh keyakinan berjuangan bagi kepentingan negara lebih penting dari keluarga, makanan ini diaduk-aduk dengan bayonet," papar Hasto.

Baca juga: Tito Karnavian: Hasto Kristiyanto Bukan Doktor Kaleng-kaleng

"Tetapi dengan seluruh proses seperti itu, ketika reformasi Pak Harto jatuh semua menghujat Pak Harto, Ibu Mega mengatakan 'Stop hujat Pak Harto'. Dan Ibu Mega melakukan langkah rekonsiliasi nasional. Bahkan tidak ada dendam sedikitpun dari Ibu Mega. Pemerintahan dibangun mengatasi krisis yang menyengsarakan rakyat. Kemudian saya tanya, kenapa ibu dengan pengalaman luar biasa itu ibu melarang agar Pak Harto jangan dihujat. Ibu Mega mengatakan 'Saya tidak ingin seorang pemimpin dipuja ketika berkuasa dan dihujat ketika tidak berkuasa. Biar lah itu jadi pengalaman Bung Karno saja'. Menurut saya ini luar biasa," tambah Hasto.

Menurutnya, Megawati hanya punya cita-cita sederhana. Bagaimana Bung Karno diterima apa adanya.

"Dan beliau telah melakukan rekonsiliasi nasional tanpa dendam yang menurut saya lebih hebat dari Nelson Mandela," usai pernyataan itu, Hasto menangis haru.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved