Kamis, 4 Juni 2026

Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan hingga Tips Agar Terhindar dari Penyakit Akibat Polusi Udara

Selain menyebabkan stunting, dampak polusi udara berbahaya juga untuk kelompok rentan lainnya seperti penderita jantung dan paru kronis.

Tayang:
Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Dewi Agustina
KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
Selain menyebabkan stunting, dampak polusi udara berbahaya juga untuk kelompok rentan lainnya seperti penderita jantung dan paru kronis. FOTO DOK./Polusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kota Jakarta dan sekitarnya disebut memiliki kualitas udara terburuk di dunia, berdaarkan data Juni hingga awal Juli 2022.

Dampak polusi udara dapat menyebabkan stunting atau manusia kerdil akibat gagal tumbuh kembang pada anak balita.

Dampak polusi udara berbahaya juga untuk kelompok rentan lainnya seperti penderita jantung dan paru kronis. Udara tidak sehat bahkan menyebabkan kematian dini.

Lalu bagaimana penduduk Jakarta, dan delapan kabupaten kota di kawasan Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) yang berjumlah 32,27 juta jiwa menghadapi udara buruk yang dihirup tiap hari?

Baca juga: Polusi Udara Jakarta Kronis, Rentan untuk Balita dan Ibu Hamil, Sebabkan Stunting dan Sakit Paru

Sektor apa sesungguhnya penyumbang polutan, dan terletak di daerah mana saja?

Dalam waktu sebulan terakhir, kualitas udara di Jakarta diperbincangkan publik karena menjadi yang terburuk di dunia berdasarkan situs IQAir (https://www.iqair.com/id/world-air-quality-ranking).

Menurut situs itu, udara di Jakarta tidak sehat. Peringkat ini memang dinamis, setiap hari berubah.

Dampak polusi udara di Jakarta dapat menyebabkan stunting atau manusia kerdil akibat gagal tumbuh kembang pada anak balita, hingga kematian dini.

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Budi Haryanto mengatakan polusi mengakibatkan kanker, penyakit jantung, penyakit saluran napas, gangguan pertumbuhan fisik, hingga gangguan sistem syaraf.

"Jadi pada anak-anak yang sedang ramai sakarang, stunting. Kalau mau di-explisitkan, polusi udara ini yang dominan berkontribusi mengakibatkan stunting. Gangguan system syaraf termasuk IQ dan sebagainya. Itu adalah sebab semua yang ada di depan hidung kita dan terhirup secara otomatis masuk kedalam paru-paru."

"Karena kita tidak pernah bisa memilih, apa yang masuk kedalam paru-paru," ujar Budi saat menjadi pembicara pada diskusi ‘The Saboteurs: Siapa Melakukan Sabotase Pencemaran Udara Jakarta?’ Sabtu (25/6/2022).

Baca juga: Disebut Jadi Biang Kerok Polusi Udara di DKI, Pemprov Banten Singgung Angin dan Arah Gerak

Selain itu polusi udara juga berdampak pada kesehatan partikulat, di antaranya; kematian dini, kanker paru, peningkatan kasus Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK), memperparah penyakit paru kronis, hingga serangan jantung.

Prof Budi juga mengungkapkan, tahun 2010, berdasarkan data rekam rumah sakit (medical record) rumah sakit di Jakarta, sekitar 57,8 persen atau hampir 60 persen penyakit pasien yang dirawat di Rumah Sakit terkait penyakit yang disebabkan polusi udara.

"Jadi mereka mereka yang dirawat di rumah sakit itu ternyata hampir 60 persen punya penyakit terkait penyakit yang diakibatkan polusi udara," ujarnya.

Dokter Spesialis Paru sekaligus Konsultan Paru Kerja dan Lingkungan atau Occupational and Environmental Lung Health dokter Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K) mengatakan, kualitas udara di Jakarta dan sekitarnya yang buruk menimbulkan dampak mengkhawatirkan pada kelompok rentan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved