Kamis, 4 Juni 2026

Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan hingga Tips Agar Terhindar dari Penyakit Akibat Polusi Udara

Selain menyebabkan stunting, dampak polusi udara berbahaya juga untuk kelompok rentan lainnya seperti penderita jantung dan paru kronis.

Tayang:
Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Dewi Agustina
KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
Selain menyebabkan stunting, dampak polusi udara berbahaya juga untuk kelompok rentan lainnya seperti penderita jantung dan paru kronis. FOTO DOK./Polusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). 

Kemudian pertengahan Februari hingga awal Maret, awal hingga medio April, akhir Mei hingga Oktober, arah angin membawa asap ke arah sebaliknya, barat.

Tampak asap, termasuk dari Bekasi dan Cikarang, bertiup ke arah Jakarta, hingga Banten dan Lampung.

Awal November sampai Desember, arah angin Kembali bertiup dari barat ke timur, dari Selat Sunda ke Jakarta.

Kepala Seksi Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Banten, Agus Sudrajat menjelaskan kualitas udara dipengaruhi meteorologi.

"Sifatnya dipengaruhi oleh meteorologi atau arah angin kecepatan angin dan curah hujan," katanya kepada TribunBanten.com saat ditemui di kantornya, Selasa (28/6/2022).

Selain itu, kualitas udara juga dipengaruhi topografi atau bentang alam serta adanya sumber emisi yang terdapat di wilayah setempat.

Dalam pengaruh emisi tersebut, apakah emisinya bergerak atau tidak bergerak. Seperti asap kendaraan dan lain sebagainya.

"Sehingga kami masih agak kesulitan ketika menentukan mengenai hal itu (tudingan penyumbang polusi udara, Red), karena (polusi udara, Red) itu sesuai arah angin dan arah gerak," katanya.

Terpisah Vice President Komunikasi Korporat PLN Gregorius Adi Trianto mengatakan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berada di Banten telah sesuai dengan aturan yang berlaku.

"PLTU-PLTU tersebut juga telah memiliki continuous emission monitoring system (CEMS), sehingga emisi yang dikeluarkan dapat secara terus-menerus dipantau," ujar Adi Trianto kepada Tribun Network, Minggu (3/7/2022).

Menurut Adi Trianto, batas emisi yang dihasilkan juga masih di bawah batas aturan yang berlaku dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 15 tahun 2019.

Pada Februari 2021, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta pernah merilis bahwa kualitas udara Jakarta dikategorikan baik.

Disebutkan, hal tersebut dipengaruhi adanya PSBB akibat pandemi covid-19, peningkatan signifikan gaya hidup baru penggunaan sepeda sebagai alat transportasi ramah lingkungan, dan adanya pengetatan kewajiban uji emisi bagi kendaraan bermotor.

Sementara pada saat yang sama, PLTU Suralaya juga beroperasi secara maksimal.

Tips Agar Terhindar dari Penyakit Akibat Polusi Udara

Kualitas udara yang buruk dapat menimbulkan berbagai macam masalah pada fungsi organ paru, mulai dari Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) hingga risiko kanker.

Polusi udara ini tentu dapat menimbulkan efek jangka pendek (akut) terhadap kesehatan, seperti menimbulkan iritasi mukosa yang ditandai mata merah, hidung berair dan bersin.

Kemudian iritasi saluran napas atas dan bawah yang ditandai gejala peradangan, sakit tenggorokan dan batuk berdahak.

Lalu dapat pula terjadi peningkatan ISPA, peningkatan serangan asma, peningkatan serangan jantung, peningkatan kunjungan Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit karena respirasi atau jantung.

Sedangkan efek jangka panjangnya (kronik) dapat menimbulkan penurunan fungsi paru, hiperreaktivitas bronkus, reaksi alergi, risiko asma, risiko Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK), risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, hingga risiko kanker.

Dikenal sebagai negara yang termasuk dengan jumlah penduduk terpadat di dunia, membuat Indonesia berpotensi menimbulkan polusi udara.

Seperti yang terjadi di ibu kota Jakarta dan sekitarnya yang disebut memiliki kualitas udara terburuk di dunia, menurut data Juni 2022.

Dikutip dari laman IQAir, Minggu (3/7/2022), nyaris 1 bulan terakhir, kualitas udara di Jakarta masuk dalam kategori terburuk.

Temuan ini mengindikasikan bahwa udara di Jakarta tidak sehat.

Lalu apa yang harus dilakukan masyarakat agar terhindar dari sederet penyakit yang menyerang fungsi paru ?

Dokter Spesialis Paru sekaligus Konsultan Paru Kerja dan Lingkungan (Occupational and Environmental Lung Health), dokter Feni Fitriani Taufik, mengatakan bahwa masyarakat harus disiplin dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Jika memang tidak memiliki agenda penting yang harus dilakukan di luar rumah, maka ia menyarankan agar masyarakat tetap di rumah.

"Dalam kondisi kualitas udara yang buruk, tipsnya hindari jajanan, jangan ke luar rumah kalau memang tidak perlu," jelas Feni, dalam pesan singkatnya kepada Tribunnews, Minggu (3/7/2022).

Jika terpaksa harus keluar rumah, maka pastikan selalu mengenakan masker karena dapat mengurangi paparan polusi udara.

Terlebih saat ini pandemi virus corona (Covid-19) masih berlangsung.

"Jika harus keluar rumah, gunakan masker. Masker jenis apapun masih lebih baik daripada tidak pakai masker sama sekali," kata dr. Feni.

Selanjutnya, kata dia, masyarakat yang hendak melakukan kegiatan outdoor harus memiliki pemahaman terhadap indeks kualitas udara pada hari saat mereka keluar rumah.

Hal ini dilakukan memantau kualitas udara saat mereka hendak beraktivitas.

Jika memang memiliki kegiatan di luar rumah, pilihlah waktu bepergian yang tidak bertepatan dengan 'jam macet', sehingga waktu perjalanan yang ditempuh pun lebih singkat dan risiko menghirup polusi udara yang dapat disebabkan dari asap kendaraan bermotor pun dapat dikurangi.

"Jika keluar rumah, perhatikan pemantauan kualitas udara, ada aplikasi Air Quality Index, Napas dan lain-lain. Rencanakan waktu perjalanan sesingkat mungkin, sehingga mengurangi risiko pajanan menghirup kualitas udara yang buruk," tegas Feni.

Feni kemudian menekankan bahwa penggunaan obat secara optimal pada kelompok rentan pun sangat penting.

Karena kelompok inilah yang paling tinggi terkena risiko kesehatan.

Tidak lupa ia mengingatkan masyarakat untuk selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

"Optimalkan obat-obat yang diperlukan, terutama pada kelompok rentan seperti penderita asma, PPOK, penyakit kardiovaskuler. Karena polusi dapat sangat mempengaruhi kesehatan. Lalu (terapkan) pola hidup bersih dan sehat," pungkas dr. Feni.

Tidak hanya kelompok rentan, penggunaan obat seperti obat tetes mata di tengah paparan polusi udara juga sangat penting untuk semua kelompok umur. Pasalnya, selain dapat memperparah kondisi kesehatan bagi penderita asma, PPOK, penyakit kardiovaskuler, paparan debu dan polutan lain juga dapat menyebabkan iritasi mata yang mengganggu penglihatan. 

Iritasi mata adalah kondisi di mana mata terasa perih, gatal dan merah, yang membuat aktivitas sehari-hari menjadi terganggu. 

Sebagai solusinya, semua kelompok umur bisa menyiapkan obat tetes mata yang dapat meredakan mata merah akibat polusi udara, sekaligus memberikan sensasi dingin sehingga mata terasa lebih segar. 

(Tribunnews.com/Larasati Dyah Utami, Rina Ayu Panca Rini; Fitri Wulandari, TribunBanten.com/Ahmad Tajudin; WartaKotaLive.com/ Gilbert Sem Sandro, Rangga Baskoro, Joko Supriyanto)

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved