Kamis, 4 Juni 2026

Dampak Polusi Udara terhadap Kesehatan hingga Tips Agar Terhindar dari Penyakit Akibat Polusi Udara

Selain menyebabkan stunting, dampak polusi udara berbahaya juga untuk kelompok rentan lainnya seperti penderita jantung dan paru kronis.

Tayang:
Penulis: Larasati Dyah Utami
Editor: Dewi Agustina
KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO
Selain menyebabkan stunting, dampak polusi udara berbahaya juga untuk kelompok rentan lainnya seperti penderita jantung dan paru kronis. FOTO DOK./Polusi udara terlihat di langit Jakarta, Senin (3/9/2018). 

Kelompok rentan terdiri atas balita, lansia atau lanjut usia, maupun orang dengan penyakit kronis seperti jantung, dan ibu hamil.

"Karena, balita sistem pertahanan saluran napasnya belum sempurna. Kemudian untuk lansia, karena mereka memiliki daya tahannya secara umum tidak optimal," kata Dokter Feni saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (21/6/2022).

Dokter Feni mengatakan, penyakit kronis masuk kelompok rentan disebabkan polusi udara erat kaitannya dengan gas-gas polutan yang masuk ke saluran napas, kemudian mengganggu pertukaran gas oksigen.

"Jadi kalau kelompok-kelompok yang sudah punya gangguan jantung, paru mereka butuh oksigen yang lebih optimal. Oksigennya lebih bagus daripada orang-orang yang sehat," kata Dokter Feni, anggota Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

Dokter Feni menerangkan, dalam polusi udara terdiri dari gas dan partikel yang mudah masuk ke saluran nafas.

Ada gas Karbondioksida, Sulfat oksida, Nitrogen dioksida, maupun senyawa organik volatil (VOC) bahan kimia organik yang memiliki tekanan uap tinggi pada suhu kamar.

Baca juga: Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Didesak Segera Keluarkan Putusan Banding Soal Gugatan Polusi Udara

Lalu ada juga partikel yang ukurannya sangat halus disebut dengan partikulat meter (PM) yang ukurannya 10 sampai dengan 2,5.

"Makin kecil makin mudah masuk ke saluran napas. Itu yang bisa masuk sampai ke alveolus yang dikhawatirkan," katanya.

Dilihat dari situs IQAir, Sabtu (2/7/2022), pukul 17.52 WIB, Jakarta berada pada peringat satu Kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Indeks kualitas udara Jakarta berada pada angka 165 alias tidak sehat. Sumber polusi atau polutan utamanya adalah PM2.5. Posisi kedua ditempati Kota Kuwait, dan ketiga Dubai.

Kemudian pada Minggu (3/7/2022), pukul 13.00 WIB, kota dengan kualitas terburuk nomor 1 di dunia adalah Santiago, Cile, diikuti Tehran, Iran, dan Jakarta, peringkat ketiga.

Lalu Minggu sore, pukul 17.45 WIB, posisi kondisi cuaca Jakarta, membaik, berada di posisi 17 terburuk. Angka indeks pencemaran adalah angka 78, kualitas sedang.

Adapun peringkat terburuk peringkat 1 adalah Kota Kuwait diikuti Karachi, Pakistan, dan Tehran, Iran.

Lalu, bagaimanakan kualitas hidup 32,27 juta jiwa populasi Jabodetabek itu, mengingat sebagian mereka terkait langsung maupun tidak langsung dengan Kota Jakarta?

Ribuan Warga Terserang ISPA

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved