Wapres Ma'ruf Amin: Pemerintah Akan Terus Dorong Dibangunnya Pabrik Minyak Makan Merah

Maruf Amin menegaskan pemerintah mendorong dibangunnya pabrik-pabrik mini minyak makan merah di berbagai daerah.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Tribunnews.com/Gita Irawan
Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin di Pondok Pesantren Teknologi Riau Pekanbaru, Riau, pada Kamis (25/8/2022). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Presiden RI Maruf Amin menegaskan pemerintah mendorong dibangunnya pabrik-pabrik mini minyak makan merah di berbagai daerah di Indonesia terutama di daerah perkebunan rakyat.

Dalam rencana pembangunan pabrik-pabrik tersebut, kata dia, perlu dilibatkan juga pihak-pihak swasta termasuk santripreneur.

"Jadi semua ini memang sedang didorong dan sekarang sudah mulai di beberapa (daerah). Di Sumatera Utara, di Riau akan ada lima. Dan pemerintah akan mendorong terus," kata Ma'ruf di Pondok Pesantren Teknologi Riau Pekanbaru, Riau pada Kamis (25/8/2022).

Menurtnya minyak makan merah memiliki sejumlah keunggulan dari aspek ekonomi.

Keunggulan tersebut, kata dia, di antaranya pasar global yang terbuka dan harga di dalam negeri yang bersaing.

Baca juga: Wapres Maruf Amin Ungkap Pemerintah Masih Godok 3 Opsi Terkait Wacana Kenaikan Harga BBM Bersubsidi

"Jadi dalam negeri juga bisa dan harganya lebih bersaing. Pasar globalnya juga terbuka. Jadi ini potensi baru yang bisa dikembangkan," kata dia.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar rapat terbatas terkait Pengelolaan Produk Turunan Kelapa Sawit di Kantor Presiden, Jakarta, Senin, (18/7/2022).

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan bahwa rapat tersebut membahas tentang hilirisasi sawit dan salah satu yang dibahas adalah usulan pembentukan pembangunan pabrik CPO mini dan RPO (red palm oil) minyak makan merah.

Pembangunan prabik tersebut sebagai solusi bagi para petani sawit yang bergantung pada industri minyak goreng.

Baca juga: Wapres Maruf Amin Resmikan Bank Riau Kepri Syariah

“Jadi ini solusi bagi para petani yang selama ini sangat tergantung menjual TBS (tandan buah segar) nya kepada Industri,” kata Teten usia ratas.

Selama ini kata Teten para petani sering kesulitan menjual TBS. Kalaupun terjual, TBS tersebut harganya rendah. Sementara itu para petani juga tidak bisa mengolah TBS menjadi CPO karena tidak memiliki pabriknya.

“Karena mereka tidak mempunyai teknologi untuk mengolah sawitnya menjadi CPO dan menjadi minyak makan,” katanya.

Baca juga: Minta Polri Tindak Tegas Judi Online, Wapres Maruf Amin: Sudah Banyak Korbannya

Dalam ratas tersebut Presiden menyetujui pembangunan pabrik minyak makan merah berbasis koperasi. Pembangunan pabrik tersebut diharapkan menjadi solusi untuk menyerap TBS petani sawit, karena 35 persen produksi sawit atau CPO ini berasal dari petani mandiri.

“Petani swadaya kalau diliat dari luas lahannya 4,41 persen lebih, jadi ini cukup. saya kira ini juga solusi bagi distribusi minyak makan untuk suplai minyak makan ke masyarakat,” pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved