Senin, 13 April 2026

Nadiem Makarim: Peringatan Hari Aksara Internasional Momentum Pengentasan Buta Huruf

Hari Aksara Internasional (HAI) yang diperingati sejak tahun 1967 merupakan pijakan pemerintah untuk membebaskan bangsa Indonesia dari buta aksara.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Dewi Agustina
Tribunnews.com/ Fahdi Fahlevi
Hari Aksara Internasional (HAI) yang diperingati sejak tahun 1967 merupakan pijakan pemerintah untuk membebaskan bangsa Indonesia dari buta aksara. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mendikbudristek Nadiem Makarim mengatakan Peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) yang diperingati setiap 8 September menjadi momentum pengentasan buta huruf di Indonesia.

Menurut Nadiem, Hari Aksara Internasional (HAI) yang diperingati sejak tahun 1967 merupakan pijakan pemerintah untuk membebaskan bangsa Indonesia dari buta aksara.

"Hari Aksara Internasional yang kita peringati mengedepankan semangat penuntasan buta huruf," ujar Nadiem Makarim melalui keterangan tertulis, Jumat (9/9/2022).

Kemendikbudristek melalui kebijakan Merdeka Belajar, kata Nadiem, terus bergerak bersama para pemangku kepentingan meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi peserta didik dan masyarakat.

Baca juga: Kemendikbudristek: Festival Indonesia Bertutur Memajukan Ekosistem Budaya Indonesia

"Hal ini sejalan dengan semangat utama dari Merdeka Belajar yaitu meningkatkan kompetensi literasi dan numerasi peserta didik. Kami di Kemendikbudristek saat ini terus mendorong dengan berbagai upaya untuk mencapai tujuan itu," ujar Nadiem.

Nadiem mengatakan salah satu terobosan besar Merdeka Belajar adalah penerapan Asesmen Nasional (AN) sebagai pengganti Ujian Nasional (UN).

"AN bertujuan untuk mengukur kemampuan literasi dan numerasi pada peserta didik dan hasilnya tidak menentukan kelulusan tetapi sebagai bahan refleksi dan evaluasi pembelajaran di sekolah," ucap Nadiem.

Berdasarkan hasil AN tahun 2021, kata Nadiem, terdapat 43 persen peserta didik yang mampu memenuhi standar minimum untuk literasi.

Dia mendorong inisiatif-inisiatif yang berfokus pada peningkatan kemampuan literasi, salah satunya dengan menerapkan Kurikulum Merdeka.

Penurunan angka buta aksara telah menjadi komitmen dunia yang tertuang dalam program UNESCO yaitu Suistainable Development Goals (SDG’s) dalam menyukseskan kebijakan Education 2030, khususnya pada Goal 4.6.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved