Pemilu 2024

Hasil Survei Indopolling: PDIP Masih Kuasai Dukungan Pemilih Jakarta, PKS Salip Gerindra

Dari simulasi pertanyaan tertutup pilihan partai, elektabilitas PDIP saat ini masih unggul di DKI Jakarta dengan elektabilitas sebesar 22,8 persen

Editor: Eko Sutriyanto
ist
Direktur Riset Indopolling Network, Dewi Arum Nawangwungu saat menjelaskan hasil survei Indopolling Network terkait dukungan pemilih partai politik di Jakarta, Jumat (25/11/2022) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Nicolas Manafe 
 
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indopolling Network baru saja merilis hasil survei terkait pemilih di DKI Jakarta.

Dari hasil yang dipaparkan, PDIP terlihat masih menguasai dukungan pemilih, memperkokoh dukungan sebagaimana hasil pemilu 2019.

Temuan lain yaitu makin menguatnya dukungan terhadap PKS yang berhasil melampaui Partai Gerindra.

Dari simulasi pertanyaan tertutup pilihan partai, elektabilitas PDIP saat ini masih unggul di DKI Jakarta dengan elektabilitas sebesar 22,8 persen.

Disusul oleh PKS (18,1 persen); Gerindra (11,2 persen); Nasdem (8,8 persen); Demokrat (6,4 persen); Golkar (4,8%) PPP (4,0%) dan PKB (3,7%).

Elektabilitas partai lainnya masih dibawah (3,0%).

Baca juga: Sekber Gerindra dan PKB Diharapkan Diresmikan Pekan Depan

"Jika dibandingkan dengan hasil pemilu 2019, yang menarik dari temuan hasil survey ini adalah adanya pergeseran posisi dukungan, dimana PKS berada di posisi kedua menggeser partai Gerindra”, ujar Direktur Riset Indopolling Network, Dewi Arum Nawangwungu, Jumat (25/11/2022).

Dilihat dari sebaran dukungan wilayah, Arum menjelaskan PDIP terlihat menguasai dukungan dari wilayah: Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Jakarta Pusat.

“Sementara PKS terlihat unggul di wilayah Jakarta Selatan," ucap Arum.

Selain elektabilitas partai, survey juga memotret respon publik Jakarta terkait sikap mereka terhadap potensi penggunaan sarana tempat ibadah sebagai lokasi kampanye, maupun penggunaan isu SARA dalam proses kampanye pada ajang Pilpres 2024 yang akan datang.

Mayoritas publik DKI Jakarta (65,5%) menyatakan penolakannya terhadap penggunaan tempat ibadah tertentu sebagai ajang sosialisasi/kampanye capres-cawapres.

"Mayoritas publik (71,8%) juga menyatakan menolak penggunaan isu SARA dalam meyakinkan dukungan kepada pemilih”, ungkap dosen Ilmu politik FISIP Universitas Brawijaya tersebut.

Arum menjelaskan, penarikan sampel dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling selama periode 8-13 November 2022 dari populasi warga DKI Jakarta yang telah memiliki hak pilih.

Adapun jumlah sampel dalam survey ini sebesar 880 responden dengan Margin of Error (MoE) sebesar + 3,4% pada tingkat kepercayaan sebesar 95%.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved