Bahaya Penyakit Antraks, Simak Gejala pada Manusia dan Hewan
Antraks umumnya menyerang hewan herbivora seperti sapi, kambing, domba, yang dapat menular ke manusia.
TRIBUNNEWS.COM - Antraks atau anthrax adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis.
Antraks umumnya menyerang hewan herbivora seperti sapi, kambing, domba, yang dapat menular ke manusia.
Bakteri penyebab antraks apabila berkontak dengan udara akan membentuk spora yang sangat resisten terhadap kondisi lingkungan dan bahan kimia tertentu.
Spora ini dapat bertahan sampai lebih dari 40 tahun di tanah.
Spora Antraks dapat menular ke hewan ternak dan manusia bisa terinfeksi jika mengonsumsi hewan ternak tersebut dan dapat langsung masuk ke tubuh manusia lewat luka pada tubuh.
Baca juga: Kemenkes Beberkan 4 Jenis Antraks, Gejalanya Mirip Tapi Beda Titik Munculnya
Tanda atau Gejala Antraks pada Manusia
Dikutip dari Dinas Kesehatan Hewan Provinsi NTB, gejala klinis antraks pada manusia ada 3 bentuk, yakni:
1. Bentuk kulit
Bersifat lokal, timbul bungkul merah pucat (karbungkel) yang berkembang jadi kehitaman dengan cairan bening berwarna merah.
Bungkul dapat pecah dan jadi koreng.
Bungkul berikutnya mucul tegang, bengkak dengan warna merah tua pada kulit sekitarnya.
2. Bentuk Pernafasan
Sesak nafas didaerah dada, bantuk, demam (tidak terlalu tinggi) dapat menyebabkan kematian jika penderita hebat (dyspone disertai sionosis).
3. Bentuk pencernaan (Gastroin Testinal)
Nyeri bagian perut, demam dan jika tidak diobati, dapat menyebabkan kematian akibat septicemia.
Baca juga: Kasus Antraks di Gunungkidul, Anggota DPR Vita Ervina Desak Pemerintah Tetapkan Status KLB
Gejala Antraks pada Hewan
Direktur Kesehatan Hewan, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian drh. Nuryani Zainuddin mengatakan, gejala klinis antraks pada hewan berupa demam tinggi pada awal infeksi, gelisah, kesulitan bernapas, kejang, rebah, dan berujung kematian.
Dikutip dari laman Kementerian Kesehatan, gejala lain yang biasa terjadi seperti perdarahan di lubang hidung dan mulut hewan.
Tidak jarang hewan ternak mengalami kematian mendadak tanpa menunjukkan gejala klinis.
"Hewan yang mati akibat penyakit ini perlu dibakar atau dikubur untuk mencegah penularan. Tidak boleh dibedah atau disembelih," ucapnya.
Cara Mencegah Antraks
Ada beberapa pencegahan yang dapat dilakukan terhadap hewan ternak, yaitu melalui vaksinasi, melakukan kontrol lalu lintas hewan ternak, dan tindakan disposal pada hewan terinfeksi.
Selain itu, ada cara lain untuk mencegah antraks, yakni:
1. Ternak yang terkena anthrax harus diasingkan untuk mendapatkan pengobatan oleh petugas sehingga tidak dapat berhubungan dengan ternak yang sehat.
2. Dilarang menyembelih hewan yang sakit untuk memakan dagingnya
3. Di dekat tempat pengasingan (kandang) digali lubang sedalam 2,5 meter untuk menampung sisa makanan dan tinja dari kandang-kandang ternak sakit.
4. Setelah lubang terisi makanan dan tinja sedalam 60 cm, lubang tersebut harus ditimbun dengan tanah baru.
5. Terhadap ternak yang sehat tetapi berapa didaerah kasus penyakit atau terancam dilakukan vaksinasi anthrax setidaknya setahun sekali.
6. Bangkai hewan yang mati karean anthrax harus segera dibakar habis atau dikubur dalam-dalam agar tidak dimakan burung/hewan pemakan bangkai.
(Tribunnews.com, Widya)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ilustrasi-sapi-sehat.jpg)