Minggu, 31 Agustus 2025

Kabinet Prabowo Gibran

Prediksi Langkah Prabowo usai Dilantik Jadi Presiden, Tinggalkan Jokowi atau Dekati PDIP?

Begini prediksi pengamat terkait langkah politik Prabowo pasca dilantik menjadi presiden. Apakah akan tinggalkan Jokowi atau dekati PDIP?

Sekretariat Presiden
Dalam kunjungan kerjanya ke Jawa Timur, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meninjau alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI di Pangkalan TNI AU Iswahjudi, Kabupaten Magetan pada Jumat, (8/3/2024) didampingi Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Begini prediksi pengamat terkait langkah politik Prabowo pasca dilantik menjadi presiden. 

TRIBUNNEWS.COM - Prabowo Subianto telah resmi ditetapkan menjadi Presiden terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Rabu (24/4/2024) lalu.

Dia pun dijadwalkan bakal dilantik bersama dengan wakilnya, Gibran Rakabuming Raka pada 20 Oktober 2024 mendatang.

Di sisi lain, ada anggapan bahwa kemenangan Prabowo-Gibran dalam Pilpres 2024 lantaran jasa Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Salah satu pihak yang menyatakan itu adalah mantan politisi PDIP, Maruarar Sirait alias Ara.

Ara menyebut bahwa pengaruh basis Jokowi di beberapa daerah menjadi faktor Prabowo-Gibran dapat menang di Pilpres 2024.

"Jokowi effect mempengaruhi hasil Pilpres. Basis-basis Pak Jokowi seperti Sulut, Maluku, Bali, Toraja, Sumut daerah Toba, semuanya Prabowo-Gibran menang," kata Maruarar pada 21 Februari 2024 lalu.

Di sisi lain, menurut exit poll yang dilakukan Litbang Kompas pada 14 Februari 2024 lalu, hasilnya menunjukan bahwa 99 persen pemilih Prabowo-Gibran lantaran dirasa ada dukungan dari Jokowi.

"Ternyata pemilih dari 02 ini adalah faktor terbesarnya adalah didukung oleh Jokowi, 99 persen pemilih 02 karena merasa ada dukungan dari Pak Jokowi di situ," kata peneliti Litbang Kompas, Bestian Nainggolan dikutip dari Kompas.com.

Bahkan, Jokowi pun memperkenalkan secara langsung Prabowo sebagai Presiden terpilih di sela pertemuan dengan Perdana Menteri (PM) Singapura, Lee Hsien Loong pada Senin (29/4/2024) lalu di Istana Kepresidenan Bogor.

Baca juga: Jokowi Ikut Partai Apa Setelah Bukan Kader PDIP? Projo Beri Clue, Golkar Siap Gelar Karpet Merah

Hanya saja, meski Prabowo menang dalam Pilpres 2024, PDIP masih menjadi partai penguasa lantaran unggul dalam raihan suara di Pileg 2024.

Berdasarkan hasil rekapitulasi KPU, PDIP menang dengan raihan 25.387.279 suara.

Di sisi lain, kemungkinan PDIP bakal menjadi oposisi pemerintahan Prabowo-Gibran meski harus menunggu Rakernas PDIP yang bakal digelar pada 24-25 Mei 2024.

Hal ini disampaikan oleh Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto.

"Ya terkait bagaimana sikap PDIP apakah berada di dalam pemerintahan atau di luar pemerintahan, itu merupakan kebijakan dari Ibu Megawati Soekarnoputri dan rakernas partai ke depan akan merumuskan sikap-sikap politik di dalam menghadapi politik nasional dan global serta langkah strategis partai pasca Pemilu," kata Hasto.

Lalu, berkaca dari peta politik ini, bagaimana langkah politik Prabowo usai dilantik menjadi Presiden? Apakah tetap loyal dengan Jokowi atau justru mendekati PDIP untuk memperkuat koalisi di pemerintahan?

Prabowo Tetap Loyal ke Jokowi, Kemungkinan Bakal Diberi Jabatan Wantimpres

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar, Ujang Komarudin menilai Prabowo bakal tetap loyal dan tidak bakal meninggalkan Jokowi usai dilantik menjadi Presiden.

Ujang menganggap hal tersebut lantaran latar belakang militer yang dimiliki Prabowo serta masih adanya kesamaan kepentingan dengan Jokowi menjadi alasan utama.

"Ya kalau saya sih melihat, Pak Prabowo loyal ya, tentara itu kan lebih loyal. Jadi akan loyal kepada Jokowi. Katakanlah pihak atau presiden yang telah memenangkan Prabowo-Gibran, seperti itu."

"Saya juga melihatnya karena frekuensi dan kepentingannya sama, jadi Prabowo akan menjaga Jokowi juga karena telah berjasa dalam pemenangan Prabowo," katanya kepada Tribunnews.com, Rabu (1/5/2024).

Lalu, ketika ditanya pembuktian loyalitas, Ujang menilai kemungkinan Prabowo akan memberi jabatan strategis seperti Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) kepada Jokowi.

Dia menganggap langkah politik semacam itu juga pernah dilakukan Jokowi saat memberikan jabatan kepada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

"Jadi Wantimpres cukup layak (bagi Jokowi). Saya rasa itu hal yang bagus. Seperti dulu Megawati jadi Ketua BPIP atau yang lainnya yang dianggap layak oleh Prabowo," tutur Ujang.

Prabowo Diprediksi Tinggalkan Jokowi usai Dilantik, Dianggap Sudah Bukan Sosok Penting

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan pangkat istimewa Jenderal Kehormatan untuk Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto di Mabes TNI, Cilangkap Jakarta Timur, Rabu (28/2/2024).
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan pangkat istimewa Jenderal Kehormatan untuk Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto di Mabes TNI, Cilangkap Jakarta Timur, Rabu (28/2/2024). (Instagram/jokowi)

Beda dengan Ujang, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno menilai Prabowo bakal meninggalkan Jokowi dan memilih PDIP.

Namun, Adi memprediksi langkah Prabowo itu akan dilakukan setelah dilantik menjadi Presiden pada 20 Oktober 2024 mendatang.

"Rasa-rasanya setelah 20 Oktober, Prabowo ini akan jauh memprioritaskan PDIP ketimbang Jokowi yang sudah tak lagi jadi presiden," tuturnya dalam program Obrolan Newsroom Kompas.com yang dikutip pada Rabu (1/5/2024).

"Tapi per hari ini, saya memabca Prabowo masih cukup menghargai dan menjadikan Jokowi sebagai variabel penting karena sampai tanggal 20 saya kira Jokowi masih jadi presiden," sambung Adi.

Dia menganggap ketika Jokowi bukan lagi menjadi sosok penting Prabowo, maka PDIP bakal berpotensi bergabung ke pemerintahan Prabowo-Gibran.

Adi menilai langkah Prabowo yang semacam ini demi menggaet dukungan di parlemen terhadap pemerintah agar semakin besar.

Dari langkah itu, dia mengatakan publik bisa menilai apakah Jokowi masih dianggap sosok penting atau tidak oleh Prabowo.

"Karena kalau mau jujur, Prabowo ini pasti akan bicara ke depan, bagaimana mendapatkan dukungan berlimpah, dukungan politik, dukungan partai solid, sehingga semua keputusan politik bisa berjalan dengan baik," ujar Adi.

Dia pun berkesimpulan bahwa Partai Gerindra dan Prabowo tidak nyaman jika PDIP benar-benar menempatkan diri sebagai partai oposisi.

Sehingga, sambungnya, menggaet partai berlambang banteng itu untuk masuk sebagai pendukung pemerintahan akan menjadi opsi.

"Mereka (PDIP) bisa kritis dan selalu bisa resisten setiap keputusan politik Prabowo."

"Pasca (Jokowi) tak lagi jadi presiden, Prabowo akan memilih, lebih penting mana antara PDIP dan Pak Jokowi," pungkasnya.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto/Rizki Sandi Saputra)(Kompas.com)

Sumber: TribunSolo.com
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan