Menteri Wihaji: Fenomena Child Free Perlu Dihormati, Tapi Kultur Indonesia Tetap Kuat
Kepala BKKBN optimis bahwa Indonesia akan mampu menjaga keseimbangan antara perubahan gaya hidup masyarakat modern dengan nilai-nilai tradisional.
Penulis:
M Alivio Mubarak Junior
Editor:
Willem Jonata
Laporan Wartawan Tribunnews.com, M Alivio Mubarak Junior
TRIBUNNEWS.COM, KARAWANG - Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji menanggapi fenomena childfree yang belakangan ini ramai dibahas publik.
Bahkan beberapa artis Tanah Air pernah mengungkapkan keberpihakannya untuk childfree seperti Gita Savitri, Cinta Laura, dan Anya Dwinof.
Terkait ini, Menteri Wihaji menghormati pilihan orang yang ingin childfree.
Kendati begitu Wahaji yakin bahwa kultur Indonesia yang berbasis keluarga akan tetap terjaga.
Selain itu adapun fenomena ini kembali mencuat setelah salah satu laporan media menyebutkan ada sekitar 71 ribu perempuan di Indonesia yang menyatakan ingin hidup child free atau menikah tanpa memiliki anak.
Menurut Wihaji, hal tersebut dipengaruhi oleh tiga faktor utama: ekonomi, karier, dan budaya.
"Setelah kita analisis, ada tiga sebab utama: ekonomi, karier, dan budaya. Tapi saya yakin, kultur Indonesia akan menjadikan semuanya baik-baik saja. Masyarakat kita memiliki semangat untuk tetap menjaga nilai keluarga," ungkapnya.
Meski menghormati fenomena ini, Wihaji menegaskan bahwa pemerintah tetap akan hadir untuk memberikan edukasi dan dukungan, khususnya dalam hal pengendalian penduduk dan pembangunan keluarga.
Ia optimis bahwa Indonesia akan mampu menjaga keseimbangan antara perubahan gaya hidup masyarakat modern dengan nilai-nilai tradisional yang menjadi ciri khas bangsa.
"Kita tidak perlu khawatir. Pemerintah akan tetap hadir, baik untuk memberikan pemahaman maupun solusi, agar setiap pilihan tetap mendukung pengembangan keluarga yang berkualitas," ujarnya.
Tantangan Baru dalam Kependudukan
Wihaji menyoroti bahwa fenomena child free ini merupakan bagian dari tantangan yang lebih besar dalam pengelolaan penduduk di era modern.
Namun, ia percaya bahwa dengan pendekatan berbasis data dan program-program seperti GENTING, pemerintah dapat menghadapi berbagai tantangan tersebut secara efektif.
"Fenomena ini tidak bisa dibandingkan dengan apa yang terjadi di negara lain. Indonesia memiliki karakteristik yang unik, dan saya percaya masyarakat kita akan terus beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya," jelas Wihaji.
Air Bersih, Sanitasi, dan Nikah Dini Jadi Pemicu Stunting, BKKBN Gandeng Swasta untuk Intervensi |
![]() |
---|
Angka Stunting Nasional Turun Jadi 19,8 Persen, BKKBN Ngotot Turun 14 Persen |
![]() |
---|
BKKBN Libatkan Tokoh Agama untuk Menekan Pernikahan Dini |
![]() |
---|
10 Negara dengan Tren Childfree Tertinggi: Jepang hingga Jerman Pilih Hidup Tanpa Anak |
![]() |
---|
Dukung Program TAMASYA BKKBN, BAZNAS Beri Bantuan untuk 1.000 Anak di Wilayah 3T |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.