Dukung Indonesia Emas 2045, PBNU dan GEMPAR Sepakat Perkuat Dialog Lintas Agama dan Generasi
Ia menegaskan, demokrasi di Indonesia harus berdiri di atas semangat persaudaraan dan nilai-nilai kebhinekaan, bukan semata kompetisi politik.
Penulis:
Chaerul Umam
Editor:
Acos Abdul Qodir
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Komitmen memperkuat toleransi dan kolaborasi lintas generasi serta lintas iman menjadi sorotan utama dalam pertemuan antara Generasi Muda Pembaharu Indonesia (GEMPAR Indonesia) dengan Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), di Kantor PBNU, Jakarta, Rabu (14/5/2025).
Pertemuan strategis ini dinilai sebagai bagian penting dari upaya memperkuat pondasi kebangsaan menuju Indonesia Emas 2045.
Pertemuan yang dihadiri oleh Ketua Umum GEMPAR Indonesia Yohanes Sirait, Sekjen Petrus Sihombing, serta jajaran pengurus DPP GEMPAR itu menekankan pentingnya membangun sinergi antara umat beragama serta mendorong peran aktif generasi muda dalam memperkuat demokrasi yang inklusif.
“Agama harus menjadi sumber solusi, bukan masalah. NU dan ormas keagamaan lain, termasuk GEMPAR yang mewadahi pemuda Kristen dan Katolik, harus terlibat dalam mengedukasi masyarakat dan terutama kadernya untuk membangun kesadaran kebangsaan yang inklusif,” ujar Gus Yahya.
Ia menegaskan, demokrasi di Indonesia harus berdiri di atas semangat persaudaraan dan nilai-nilai kebhinekaan, bukan semata kompetisi politik.
“Indonesia adalah rumah bersama. Demokrasi kita harus dibangun di atas fondasi persaudaraan, bukan hanya kompetisi politik,” tambahnya.
Baca juga: Turbo, Sapi Kurban Presiden Prabowo Mati Mendadak Usai Dimandikan, Diduga Keracunan
GEMPAR Indonesia melihat pertemuan ini sebagai peluang untuk memperluas wacana strategis lintas kelompok, baik dalam konteks agama maupun lintas usia.
Yohanes menekankan pentingnya membangun ruang dialog antara generasi muda dan generasi senior sebagai strategi kolektif menuju Indonesia yang berdaya saing global di tahun 2045.
“Dalam konteks agama, sudah sering dibahas pentingnya interfaith (lintas iman). Namun, kami juga melihat pentingnya inter-generational (lintas generasi), sebab generasi muda akan jadi mayoritas dalam populasi. Tapi dengan semua kemajuan yang dimiliki generasi muda, kita tetap membutuhkan kearifan dari generasi senior,” jelas Yohanes.
Ia menambahkan, dialog interfaith dan intergenerational merupakan dua fondasi penting dalam membangun masa depan bangsa yang solid dan inklusif.
Dalam forum yang berlangsung hangat tersebut, GEMPAR turut mengundang Gus Yahya untuk menjadi pembicara utama dalam ajang Youth Summit 2026, yang akan digelar tahun depan. Undangan ini disambut positif oleh Gus Yahya.
“Kami ingin Pak Kiai berbagi visi tentang bagaimana pemuda bisa menjadi jembatan antar-generasi dan antar-agama,” ujar Petrus Sihombing.
PBNU Targetkan Bangun 1.000 Dapur untuk Makan Bergizi Gratis |
![]() |
---|
Dukung MBG hingga Pemenuhan Gizi bagi Para Santri, PBNU Resmikan 13 SPPG di Cirebon |
![]() |
---|
PP ISNU 2025–2030 Resmi Dilantik, Berikut Daftar Lengkap Pengurusnya |
![]() |
---|
Ma'ruf Amin: Suryadharma Ali Sosok yang Pantas Dihormati dan Layak Diteladani |
![]() |
---|
DPD RI Dorong Kolaborasi NU dan Pemerintah Capai Indonesia Emas |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.