Dedi Mulyadi Bantah Bayar Buzzer dan Influencer di Medsos untuk Pencitraan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengaku mengelola sednri media sosial tanpa harus menghabiskan anggaran besar.
"Keun bae Aing mah disebut 'Gubernur Lambe Turah' ge, da rata-rata jelma sok hayang asup ka 'Lambe Turah'. (Tidak apa-apa saya dijuluki 'Gubernur Lambe Turah' karena saat ini rata-rata orang ikut 'Lambe Turah'," katanya.
Dedi Mulyadi menegaskan julukan apapun yang ditujukan padanya itu tidak penting.
Sebab, menurutnya, yang lebih penting adalah janji politik dan program kerjanya sebagai gubernur dapat terealisasi dan cita-cita menyejahterakan masyarakat dapat terwujud.
"Edek dibere gelar gubernur naon wae ge teu penting, nu penting mah naon nu di janjikeun ka rakyat di wujudkeun. (Julukan apapun kepada saya tidak penting, yang penting janji saya kepada rakyat dapat terwujud," imbuhnya.
Kata Lambe Turah berasal dari bahasa Jawa.
Secara harfiah lambe artinya bibir dan turah artinya sisa atau kelebihan.
Secara umum "lambe turah" digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlalu banyak bicara, banyak mulut, suka menggosip, dan cenderung membeberkan informasi yang tidak seharusnya.
Sebelumnya Dedi Mulyadi juga pernah disebut 'gubernur konten.
Pada akhir April lalu, Dedi Mulyadi disapa sebagai "gubernur konten" oleh Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas'ud.
"Terima kasih banyak Bu Wamen [Dalam Negeri] dan seluruh gubernur yang hadir hari ini. Kang Dedi, gubernur konten. Mantap nih Kang Dedi," ujar Rudy dalam rapat kerja Bersama Komisi II antara DPR dan Kementerian Dalam Negeri serta kepala daerah sejumlah provinsi lainnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Disindir Gubernur Konten, Dedi Mulyadi Cuek: Anggaran Itu Dipakai Bangun Jalan, Bukan Bayar Buzzer
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Dedi-Mulyadi-Murka-23.jpg)