Minggu, 3 Mei 2026

Gunawan Tjokro: Sinergi Kampus dan Industri Jadi Kunci Indonesia Emas 2045

Tokoh industri nasional, Gunawan Tjokro menyoroti hal tersebut sebagai tantangan yang mendesak untuk dijawab secara serius.

Tayang:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Wahyu Aji
HandOut/IST
SEKTOR PENDIDIKAN - Tokoh industri nasional, Gunawan Tjokro menyatakan, Indonesia menyimpan potensi besar untuk memajukan sektor pendidikan dan industri secara bersamaan. Namun, potensi itu dinilai belum tergarap maksimal karena masih lemahnya konektivitas antara dunia kampus dan dunia kerja. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Indonesia menyimpan potensi besar untuk memajukan sektor pendidikan dan industri secara bersamaan.

Namun, potensi itu dinilai belum tergarap maksimal karena masih lemahnya konektivitas antara dunia kampus dan dunia kerja.

Tokoh industri nasional, Gunawan Tjokro menyoroti hal tersebut sebagai tantangan yang mendesak untuk dijawab secara serius.

“Indonesia memiliki lebih dari 3.500 perguruan tinggi. Ibarat ladang talenta yang subur, tapi sayangnya belum terhubung dengan dunia industri secara efektif,” kata Gunawan dalam keterangannya, Kamis (19/6/2025).

Menurut Komisaris Utama PT Dynaplast ini, kesenjangan ini menjadi salah satu penyebab tingginya angka pengangguran terdidik di tanah air.

Banyak lulusan perguruan tinggi yang belum siap kerja karena kampus tidak menyiapkan mereka sesuai kebutuhan nyata industri.

“Kita punya ribuan kampus, tapi banyak lulusan belum siap kerja,” tegas Gunawan.

Sebagai pelaku industri yang pernah mengabdi di perusahaan multinasional seperti PT Kalbe Farma Tbk dan PT Unilever Indonesia Tbk, Gunawan memahami betul pentingnya kualitas SDM yang siap terjun langsung di dunia kerja.

Di bawah kepemimpinannya, PT Dynaplast—produsen kemasan plastik ternama di Asia Tenggara—rutin menjalankan program Management Trainee (MT) guna membekali lulusan baru dengan keterampilan industri.

Namun, program MT ini bukan tanpa tantangan. Proses pelatihan memakan waktu antara satu hingga dua tahun, serta menyerap biaya besar.

“Biaya itu sebenarnya bisa ditekan jika sejak awal kampus dan industri sudah bersinergi. Misalnya melalui penyelarasan kurikulum yang sesuai kebutuhan pasar kerja,” jelasnya.

Gunawan menyambut baik hadirnya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang memberi kesempatan mahasiswa untuk magang langsung di perusahaan.

Menurutnya, program ini adalah jembatan awal yang relevan dan aplikatif.

“Magang itu jembatan bagus. Mahasiswa belajar langsung di lapangan. Mereka akan mengenal dan memahami dunia kerja yang sesungguhnya. Sehingga pengalaman selama magang bisa menjadi referensi dan inspirasi mereka ke depan,” ujarnya.

Namun, Gunawan menekankan bahwa program magang saja tidak cukup.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved