Sabtu, 30 Agustus 2025

Konflik Iran Vs Israel

Ngabalin Peringatkan Potensi Perang Dunia jika Iran–Israel Tak Redam Konflik

Ngabalin ingatkan risiko Perang Dunia jika konflik Iran–Israel tak diredam. Harga minyak bisa melonjak, Selat Hormuz terancam tutup.

Penulis: Fersianus Waku
Editor: Glery Lazuardi
Tribunnews.com/Reza Deni
NGABALIN - Ali Mochtar Ngabalin saat beri pernyataan soal bahaya eskalasi konflik Iran–Israel usai kunjungan PKR Malaysia di Kantor Golkar. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Bidang Kebijakan Politik Luar Negeri dan Hubungan Internasional DPP Partai Golkar, Ali Mochtar Ngabalin memperingatkan bahwa dunia berada di ambang krisis global jika konflik antara Iran dan Israel tidak segera diredam. 

Menurut Ngabalin, keterlibatan Amerika Serikat dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran berpotensi memicu eskalasi menuju Perang Dunia Ketiga dan menyebabkan lonjakan drastis harga minyak dunia.

"Iya, tidak mustahil (perang dunia ketiga bisa terjadi). Tidak mustahil itu bisa terjadi," kata Ngabalin seusai menerima kunjungan delegasi sayap perempuan dari Partai Keadilan Rakyat (PKR) Malaysia di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Senin (23/6/2025). 

Baca juga: Wapres AS JD Vance Mengelak saat Ditanya Apakah Pemerintah AS Tahu Lokasi Uranium di Iran

Ketegangan meningkat tajam setelah Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran pada Minggu (22/6/2025).

Dampaknya, kawasan Teluk menghadapi risiko serius, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dunia.

"Kita tahu sekarang Selat Hormuz sudah (diancam) ditutup. Amerika sudah ikut serta. Kalau dalam satu minggu atau sepuluh hari ini tidak bisa ada duduk kemudian berunding, maka yang paling pertama melonjaknya harga oil itu akan memberikan pengaruh yang luar biasa. Tidak saja bagi kita di Asia Tenggara tetapi di seluruh dunia," ujar Ngabalin.

Dia menuturkan, jika konflik ini terus bergulir tanpa solusi diplomatik, bukan tak mungkin negara-negara besar seperti Rusia dan sekutu Iran ikut terlibat lebih jauh. 

Dalam konteks tersebut, risiko pecahnya konflik global berskala luas menjadi semakin nyata.

"Kalau Rusia kemudian negara-negara yang memberikan sokongan kepada Iran juga bergerak dari kerangka besar ini, tidak ada yang mustahil itu bisa terjadi," tegas Ngabalin.

Oleh karena itu, Ngabalin mendorong Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan soft diplomacy atau diplomasi lunak dalam merespons konflik tersebut.

Dia mengaku usulan tersebut telah disampaikan oleh partainya kepada pemerintah melalui Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia.

"Kami telah menyampaikan kepada Ketua Umum Bapak Bahlil, karena itu saran Partai Golkar dan telah disampaikan kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto tentang soft diplomacy,” ungkap Ngabalin.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan