Sabtu, 9 Mei 2026

Penulisan Ulang Sejarah RI

Observo Center: Menulis Ulang Sejarah, Menguatkan Nasionalisme

langkah Kementerian Kebudayaan yang memulai upaya penulisan ulang sejarah nasional Indonesia mendapatkan dukungan

Tayang:
Penulis: Glery Lazuardi
Editor: Wahyu Aji
Handout/IST
PENULISAN ULANG SEJARAH - Direktur Eksekutif Observo Center, Muhammad Arwani Deni mendukung langkah Kementerian Kebudayaan yang memulai upaya penulisan ulang sejarah nasional Indonesia. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Eksekutif Observo Center, Muhammad Arwani Deni, mengapresiasi langkah Kementerian Kebudayaan yang memulai upaya penulisan ulang sejarah nasional Indonesia. 

Menurutnya, inisiatif ini penting untuk merekonstruksi memori kolektif bangsa yang lebih jujur, inklusif, dan merepresentasikan keberagaman Indonesia secara utuh.

“Penulisan ulang sejarah bukan hanya soal akurasi data, tapi menyangkut masa depan kebangsaan kita. Ini langkah strategis untuk memperkuat identitas nasional dan merawat persatuan bangsa di tengah tantangan polarisasi sosial yang makin kompleks,” ujar Arwani, Senin (7/7/2025).

Arwani menyebut bahwa pembaruan narasi sejarah ini penting dalam membangun kesadaran sejarah generasi muda.

“Ketika generasi muda tak punya keterhubungan emosional dengan sejarahnya, maka mereka lebih mudah terpapar narasi ekstrem, disinformasi, atau sentimen sektarian. Di sinilah pentingnya sejarah yang membumi dan membangun kesadaran kolektif,” ujarnya.

Arwani mengutip gagasan Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983), yang menyebut bahwa narasi sejarah adalah fondasi imajinasi kolektif bangsa. 

“Kita tidak bisa membangun nasionalisme yang sehat di atas narasi sejarah yang timpang. Keberanian menulis ulang sejarah secara objektif adalah tanda kematangan bangsa," pungkasnya.

Diberitakan, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) menegaskan bahwa proyek penulisan ulang sejarah Republik Indonesia tetap penting dilakukan, meski mendapat penolakan dari Fraksi PDIP di DPR RI.

Langkah ini dinilai krusial untuk mendokumentasikan berbagai temuan ilmiah terbaru yang selama ini belum tercakup dalam narasi sejarah resmi bangsa.

Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kemenbud, Restu Gunawan, mengatakan bahwa Indonesia sudah terlalu lama tidak memperbarui narasi sejarahnya secara menyeluruh.

Ia menyebut sejumlah penemuan di bidang arkeologi dan sejarah seharusnya menjadi bahan penting dalam membentuk pemahaman publik yang lebih utuh dan berbasis bukti ilmiah.

“Sejak Indonesia dalam arus sejarah itu, kita kan enggak menulis ya. Saya kira sudah waktunya karena temuan-temuan baru baik di bidang arkeologi, sejarah, temuan kan sudah banyak nih. Jadi ini kan perlu kita tulis,” ujar Restu di Bentara Budaya Jakarta, Senin (30/6/2025).

Anak buah Menteri Fadli Zon itu menambahkan, penulisan ulang sejarah ini bukan untuk menghapus masa lalu, melainkan untuk menghadirkan perspektif baru tentang kehebatan masa lalu Indonesia secara Indonesiasentris.

Ia berharap hasilnya dapat menjadi karya bermutu dari para sejarawan dan arkeolog yang terlibat.

“Mudah-mudahan nanti bisa selesai sesuai jadwal dan bisa menghasilkan karya-karya yang bagus dari para penulis, para sejarawan, para arkeolog,” kata dia.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved