Senin, 1 September 2025

Dihantam Ombak Saat Operasi Pasien, Kisah Pengabdian Relawan RS Kapal di Papua Barat Daya

Mereka bukan hanya tenaga profesional, tapi juga relawan yang memilih meninggalkan kenyamanan kota demi menyentuh kehidupan di pelosok nusantara.

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Willem Jonata
Tribunnews.com
TENAGA MEDIS - DI atas gelombang yang tak pernah diam, para tenaga medis dari RS Kapal Nusa Waluya II terus bekerja. Mereka bukan hanya tenaga profesional, tapi juga relawan yang memilih meninggalkan kenyamanan kota demi menyentuh kehidupan di pelosok nusantara. 

TRIBUNNEWS.COM, PAPUA - Di atas gelombang yang tak pernah diam, para tenaga medis dari RS Kapal Nusa Waluya II terus bekerja.

Mereka bukan hanya tenaga profesional, tapi juga relawan yang memilih meninggalkan kenyamanan kota demi menyentuh kehidupan di pelosok nusantara.

Salah satunya adalah Josepha (28), seorang perawat yang telah dua tahun terakhir mengabdi di atas rumah sakit terapung milik organisasi kemanusiaan doctorshare.

Kapal ini kini tengah berlabuh di Waigeo Utara, Papua Barat Daya, memberikan layanan kesehatan gratis selama dua bulan penuh.

Baca juga: Menlu RI Sugiono Minta Negara Asia Jangan Diam Saksikan Kekejaman Israel Incar Tenaga Medis di Gaza

“Selama tiga minggu kami terus dihantam ombak. Bagi awak kapal ini biasa, tapi bagi kami yang sedang mendampingi operasi, ini tantangan besar,” ujar Josepha dalam keterangan seperti dikutip, Selasa (16/6/2025).

Di ruang bedah yang tak pernah benar-benar stabil, Josepha mendampingi pasien-pasien dari berbagai pelosok.

Banyak dari mereka datang tanpa pendamping, menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapat pelayanan medis dasar yang tak tersedia di tempat tinggal mereka.

Salah satu kisah yang tak terlupakan baginya adalah merawat seorang pasien lansia tanpa keluarga yang datang seorang diri dan kesulitan bernapas.

Dengan dedikasi penuh, Josepha dan tim medis menanganinya hingga sang pasien akhirnya pulih.

Mengabdi Bukan Soal Profesi, Tapi Hati

Cerita pengabdian juga datang dari Parlin (28), seorang apoteker muda asal Jember. 

Meski merasa perannya tak sebesar dokter atau perawat, Parlin tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati.

“Pasien di sini banyak yang kesulitan berbahasa Indonesia. Jadi kami harus sabar menjelaskan cara minum obat, efek samping, dan langkah lanjutan pengobatannya,” katanya.

Ketulusan Parlin dan timnya pun dibalas dengan cara yang sederhana namun penuh makna: buah-buahan dan hasil bumi dari pasien.

“Ini apresiasi yang tak pernah saya dapatkan di kota. Rasanya luar biasa.”

Halaman
12
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan